0 komentar

Buku Harian

Ada dua jendela di sebuah kamar terbuka. seorang perempuan gendut menyembunyikan tubuhnya ke dalam dinding. sepasang matanya berkeliaran. menyala-nyala. ada sedih yang tak bisa ditukar dengan doa. lalu ia baringkan tubuhnya yang membengkak di bawah langit yang mulai dikayuh oleh angin yang maha bingung. ia tidak berdoa hari ini malah menguliti jejak yang berjejealan dipusarnya. ia lihat. sesuatu bergerak dari dalam. perut berjanin itu bergoyang-goyang seolah rahim terlalu sesak untuk ditinggali. tidak ada yang ingin dikatakannya. hanya kemudian mengelus sekedar gelembung halus dikulit. aku tidak tahu apa-apa. karena kau tudak tampak. apakah sedini ini kau mulai menagih cinta?

senin, 5 maret 2012
0 komentar

Ibu menelpon

ibu memekik di ujung telphon, dalam jeda shalat ia panggil anak gadisnya yang malang dan cilaka
"jalan sebaiknya selalu menuju tuhan, nak. pulang, dan menikahlah dengan laki-laki saleh"
anak diam, lukanya basah lantaran suara itu datang dari rongga rahim. tapi kaki-kakinya yang patah menahun tak akan mengerti
ia tetap menjajaki sunyi
tidak peduli,
apakah menuju tuhan atau pulang  kepada kerumitan tubuhnya sendiri.
0 komentar

tentang mencari Kau

Aku tidak ingin menemukanmu di tabung kaca ini, setelah berkali-kali aku membakar puisi. Sabdamu. Sebab entah mengapa liku –liku kata yang usai kau jalin justru bukan penjelasan sesampai ia tiba di dadaku. Hanya semacam jarak, jarak satu kejarak yang lainnya. Jarak yang beranak pinak. Ah, kata jarak sendiri hanya melenakan kita untuk tidak bilang tiada.
Kau tahu, jika suatu hari aku bisa menemukanmu di jalan melingkar atau bercabang. Akan ku jejaki semua arah itu asal tidak dengan kata. Sebagaimana terlalu biasa aku menjumpaimu di tabung kaca, atau di sebuah kertas dimana ribuan jari boleh menggapainya.

Hai jantung, dimana detak? Sungguh berlembar lembar hijab belum usai kurajah untuk menemukan batang hatimu. Seperti gundukan mega-mega yang merintangi sinar. Tapi aku tahu kehidupanku sendiri berasal darimu. Entah kau memberinya dengan janji atau sekedar melempar begitu saja lalu aku menemukannya dalam keadaan terlilit tali pusar dan menamainya sebagai cinta.

Boleh kah kau kusebut kekasih, jika hanya kaulah udara itu? Aku tidak peduli jika hembusan itu berasal dari cerobong –cerobong hitam dan membangun rumah racun di jantungku. Atau hembusan itu berasal dari daun-daun yang gagal dipangkas.
Tapi, dengan udara yangberagam itulah aku tumbuh.

Hai… hm… ah, aku mulai kesulitan menyapamu.sebab dalam membaca namamu hanya tanda. Bukan dialah dirimu. bintang yang berseliweran di langit. umang-umang dipadang padi. Yang mana yang dekat. Yang mana yang kukenal. Tidak ada, sebab kau hanya serupa sinar. jentik sinar yang setara juga Yang lekang jauhnya.

Dan suatu hari di penghujung tahun, kabarnya kau datang, kabar itu kudapat dari angin yang suka susumbar. Ada semacam sangsi atas kebahagiaanku mengapa tak kau biarkan aku lebih lama mencari, sebab diam-diam aku menikmati kesunyian ini. Oh, betapa rumitnya hasrat manusia, terlebih ia seorang gadis!

Namun, pendusta mana yang lebih hebat dari angin? sampai menjelang detik-detik berganti tahun, masih tak kuketahui kau menyelinap di wajah yang mana. Di perwujudan yang mana, di nama apa, di ruang apa. Menunggu, tuan. Ya, menunggu!. Nama-nama dan tanda tidak kutemukan disini, bahkan sekedar do’a urung kau sahut.
.
Waktu bagai seorang pandai besi yang menciptakan ribuan pedang untuk menghunus adamu sendiri. Kau tahu, kerinduan semacam ini membuatku jadi sebatang kara. Haruskah kuhisap sendiri jantungku agar aku bersenyawa dengan kau. Menjadi tidak ada. Menjadi tidak sebatang kara?

Dalam perjalanan pulang,
kutemui orang-orang yang terbilur luka ditubuhnya.
Luka membuka bagai mawar dipagut sinar
Anak-anak dan perempuan tidak berhenti menangis
seolah tubuhnya yang hangat adalah tungku penanak air mata
ada sepasang pengantin terbakar dihembus angin
bah menganyutkan bayi-bayi dan rumah

kesengsaraaan sudah sedemikian beku. Namun urung jadi sejarah.
Aku bergetar. tak bisa kubantah lagi, Kaulah kesedihan itu. Dialah Dirimu.
0 komentar

Dia

Dialah, mungkin bukan sekedar hujan.
angin membuka mega. dicumbunya tanah merekah

melunasi perjanjian dalam sebuah riwayat selembar nafas: KELAHIRAN dan KEMATIAN
namun dimana jatuh baning?
merampas tua sementara membujuk telur meluka cangkang, katanya itu biasa
seperti biasa hembus dan hirup pada jantung
tapi sakit dari yang tidak mati-mati
was-was dan sia-sia dalam mampu
kekal ia melembihi lega dalam hela panjang

tapi,
hujanlah
gemuruhlah
bahlah
bangun kesedihan itu lagi atau apapun yang tidak menyudahi sesak
sebab mungkin,
di situlah kala bayi-bayi berjanji dalam rahim

tuhan mau kita menghirupnya dalam
hu...

habis kita!
0 komentar

Dalam Membaca

ada selalu yang ingin kamu bisa enyahkan: seperti cemburu yang tidak ada hubungannya dengan cinta, cerita-cerita dari suara orang mati, tentang nasib dan perjumpaan yang musykil juga debat kusir nilai-nilai. LALU KAMU PUNYA BEBERAPA BUKU BAGUS UNTUK MEMBUNUHNYA namun, seperti mengibas asap sementara menggemukan api, seolah perasaan-perasaan itu akan tertampik oleh perkelahian makna yang mengucur deras dari jari - jari para penyair. lalu kau lupa, kenyataan, apapun itu hanya datang dari yang Tunggal. maka setelah lembar demi lembar hurup-hurup itu kau rasuki atau dia yang merasukimu, kau tidak pergi kemana-mana, kesimpulanmu tidak jatuh dimana-mana. tetap disitu sebab para penyair seolah bersekutu dengan sejarahmu. menangkap kisahmu. kau tertawan lagi.
ah, menurutku biar saja, kebenaran sedang menjelajahi dirinya sendiri melalui kau dan dia, atau mau nonton spongebob aja? he he he toh dia juga kisahmu.
0 komentar

Pertemuan

Kita tidak pernah bersentuhan kulit dan daging. Dan gambar yang kau krim sungguh tidak menjelaskan sesuatu yang hidup dari tulang dan darah. Tapi aku percaya kau kau lebih dari itu, semacam kekuatan luar biasa yang membawaku pada pengalaman suka dan duka cita yang rumit. Kau adalah kasih sayang itu, kau adalah kesunyian itu.

Aku ingin menciummu tapi aku ragu adakah bibir bagimu,aku ingin bersandar namun apakah kau berbahu? Belum sampai pada semuanya kau mengubah sebatangkaraku menjadi kehidupan yang rimbun dan bercabang. Lengkap.

Disini, kadang juga kekuatan ini juga mencapai satu pengertian yang berbahaya. Setelah aku sadar betul-betul tidak ada kau, hadirlah sepi yang lebih hebat dari kematian.

21 September 2010. 01.37
0 komentar

Itu Neyla!

Aku menemukan gadis kecil itu di depan pagar rumahku. Ia membuka dan menutup pagar seolah benda besi itu adalah mainan. Kepalanya botak. Ingusnya yang putih meleper di bawah lubang hidung dan bibir. ketika aku tanya dimana ibunya, sambil sibuk menutupkan kain batik usang di kepalanya ia menjawab “ibu di kapal” (ibunya bekerja sebagai TKW) lalu kutanya bapaknya, dengan gembira ia sebutkan nama dan memaksaku untuk melihat tempat dimana bapaknya bekerja. Tepat di depan rumahku, rumah seorang warga sedang dibangun dan ayah gadis itu salah satu pekerjanya. Aku suka caranya menjawab. kemudian ku susul pertanyaan terakhir “kenapa kepalamu di botak?” Dia menjawab spontan “supaya tumbuh rambut” .

aku ambil gambarnya dengan telpon seluler. Gadis kecil itu diam-diam berfose. Ketika kutunjukan hasil gambar beberapa detik ia diam lalu mengatakan “Neyla, itu Neyla” ya, Neyla nama gadis itu sebelumnya mana ku tahu. mungkin gadis itu juga tidak tahu sebelum melihat gambarnya sendiri di layar handphone . ya, itu Neyla.

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta