0 komentar

tentang mencari Kau

Aku tidak ingin menemukanmu di tabung kaca ini, setelah berkali-kali aku membakar puisi. Sabdamu. Sebab entah mengapa liku –liku kata yang usai kau jalin justru bukan penjelasan sesampai ia tiba di dadaku. Hanya semacam jarak, jarak satu kejarak yang lainnya. Jarak yang beranak pinak. Ah, kata jarak sendiri hanya melenakan kita untuk tidak bilang tiada.
Kau tahu, jika suatu hari aku bisa menemukanmu di jalan melingkar atau bercabang. Akan ku jejaki semua arah itu asal tidak dengan kata. Sebagaimana terlalu biasa aku menjumpaimu di tabung kaca, atau di sebuah kertas dimana ribuan jari boleh menggapainya.

Hai jantung, dimana detak? Sungguh berlembar lembar hijab belum usai kurajah untuk menemukan batang hatimu. Seperti gundukan mega-mega yang merintangi sinar. Tapi aku tahu kehidupanku sendiri berasal darimu. Entah kau memberinya dengan janji atau sekedar melempar begitu saja lalu aku menemukannya dalam keadaan terlilit tali pusar dan menamainya sebagai cinta.

Boleh kah kau kusebut kekasih, jika hanya kaulah udara itu? Aku tidak peduli jika hembusan itu berasal dari cerobong –cerobong hitam dan membangun rumah racun di jantungku. Atau hembusan itu berasal dari daun-daun yang gagal dipangkas.
Tapi, dengan udara yangberagam itulah aku tumbuh.

Hai… hm… ah, aku mulai kesulitan menyapamu.sebab dalam membaca namamu hanya tanda. Bukan dialah dirimu. bintang yang berseliweran di langit. umang-umang dipadang padi. Yang mana yang dekat. Yang mana yang kukenal. Tidak ada, sebab kau hanya serupa sinar. jentik sinar yang setara juga Yang lekang jauhnya.

Dan suatu hari di penghujung tahun, kabarnya kau datang, kabar itu kudapat dari angin yang suka susumbar. Ada semacam sangsi atas kebahagiaanku mengapa tak kau biarkan aku lebih lama mencari, sebab diam-diam aku menikmati kesunyian ini. Oh, betapa rumitnya hasrat manusia, terlebih ia seorang gadis!

Namun, pendusta mana yang lebih hebat dari angin? sampai menjelang detik-detik berganti tahun, masih tak kuketahui kau menyelinap di wajah yang mana. Di perwujudan yang mana, di nama apa, di ruang apa. Menunggu, tuan. Ya, menunggu!. Nama-nama dan tanda tidak kutemukan disini, bahkan sekedar do’a urung kau sahut.
.
Waktu bagai seorang pandai besi yang menciptakan ribuan pedang untuk menghunus adamu sendiri. Kau tahu, kerinduan semacam ini membuatku jadi sebatang kara. Haruskah kuhisap sendiri jantungku agar aku bersenyawa dengan kau. Menjadi tidak ada. Menjadi tidak sebatang kara?

Dalam perjalanan pulang,
kutemui orang-orang yang terbilur luka ditubuhnya.
Luka membuka bagai mawar dipagut sinar
Anak-anak dan perempuan tidak berhenti menangis
seolah tubuhnya yang hangat adalah tungku penanak air mata
ada sepasang pengantin terbakar dihembus angin
bah menganyutkan bayi-bayi dan rumah

kesengsaraaan sudah sedemikian beku. Namun urung jadi sejarah.
Aku bergetar. tak bisa kubantah lagi, Kaulah kesedihan itu. Dialah Dirimu.
0 komentar

Dia

Dialah, mungkin bukan sekedar hujan.
angin membuka mega. dicumbunya tanah merekah

melunasi perjanjian dalam sebuah riwayat selembar nafas: KELAHIRAN dan KEMATIAN
namun dimana jatuh baning?
merampas tua sementara membujuk telur meluka cangkang, katanya itu biasa
seperti biasa hembus dan hirup pada jantung
tapi sakit dari yang tidak mati-mati
was-was dan sia-sia dalam mampu
kekal ia melembihi lega dalam hela panjang

tapi,
hujanlah
gemuruhlah
bahlah
bangun kesedihan itu lagi atau apapun yang tidak menyudahi sesak
sebab mungkin,
di situlah kala bayi-bayi berjanji dalam rahim

tuhan mau kita menghirupnya dalam
hu...

habis kita!
0 komentar

Dalam Membaca

ada selalu yang ingin kamu bisa enyahkan: seperti cemburu yang tidak ada hubungannya dengan cinta, cerita-cerita dari suara orang mati, tentang nasib dan perjumpaan yang musykil juga debat kusir nilai-nilai. LALU KAMU PUNYA BEBERAPA BUKU BAGUS UNTUK MEMBUNUHNYA namun, seperti mengibas asap sementara menggemukan api, seolah perasaan-perasaan itu akan tertampik oleh perkelahian makna yang mengucur deras dari jari - jari para penyair. lalu kau lupa, kenyataan, apapun itu hanya datang dari yang Tunggal. maka setelah lembar demi lembar hurup-hurup itu kau rasuki atau dia yang merasukimu, kau tidak pergi kemana-mana, kesimpulanmu tidak jatuh dimana-mana. tetap disitu sebab para penyair seolah bersekutu dengan sejarahmu. menangkap kisahmu. kau tertawan lagi.
ah, menurutku biar saja, kebenaran sedang menjelajahi dirinya sendiri melalui kau dan dia, atau mau nonton spongebob aja? he he he toh dia juga kisahmu.
0 komentar

Pertemuan

Kita tidak pernah bersentuhan kulit dan daging. Dan gambar yang kau krim sungguh tidak menjelaskan sesuatu yang hidup dari tulang dan darah. Tapi aku percaya kau kau lebih dari itu, semacam kekuatan luar biasa yang membawaku pada pengalaman suka dan duka cita yang rumit. Kau adalah kasih sayang itu, kau adalah kesunyian itu.

Aku ingin menciummu tapi aku ragu adakah bibir bagimu,aku ingin bersandar namun apakah kau berbahu? Belum sampai pada semuanya kau mengubah sebatangkaraku menjadi kehidupan yang rimbun dan bercabang. Lengkap.

Disini, kadang juga kekuatan ini juga mencapai satu pengertian yang berbahaya. Setelah aku sadar betul-betul tidak ada kau, hadirlah sepi yang lebih hebat dari kematian.

21 September 2010. 01.37
0 komentar

Itu Neyla!

Aku menemukan gadis kecil itu di depan pagar rumahku. Ia membuka dan menutup pagar seolah benda besi itu adalah mainan. Kepalanya botak. Ingusnya yang putih meleper di bawah lubang hidung dan bibir. ketika aku tanya dimana ibunya, sambil sibuk menutupkan kain batik usang di kepalanya ia menjawab “ibu di kapal” (ibunya bekerja sebagai TKW) lalu kutanya bapaknya, dengan gembira ia sebutkan nama dan memaksaku untuk melihat tempat dimana bapaknya bekerja. Tepat di depan rumahku, rumah seorang warga sedang dibangun dan ayah gadis itu salah satu pekerjanya. Aku suka caranya menjawab. kemudian ku susul pertanyaan terakhir “kenapa kepalamu di botak?” Dia menjawab spontan “supaya tumbuh rambut” .

aku ambil gambarnya dengan telpon seluler. Gadis kecil itu diam-diam berfose. Ketika kutunjukan hasil gambar beberapa detik ia diam lalu mengatakan “Neyla, itu Neyla” ya, Neyla nama gadis itu sebelumnya mana ku tahu. mungkin gadis itu juga tidak tahu sebelum melihat gambarnya sendiri di layar handphone . ya, itu Neyla.
0 komentar

Dosa

Keinginanku yang tertinggi adalah keinginan yang justru paling sederhana yang pernah diinginkan makhluk hidup adalah BERGERAK. Dan suatu hari kau datang memberikan penghargaan tertinggi padaku menyadarkan aku tentang gairah hidup, rasa kekurangan dan hasrat yang besar tapi lalu kau kembali tidak ada. Hari setelahnya tidak ada yang berubah. Aku tetap ada pada jalanku yang sederhana :berjalan, membaca, berlatih teater, bernyanyi di kamar mandi, berdoa. Aku aku merasakan fikiranku diam ternyata tidak sepenuhnya aku tetap hidup dan membayangkan hal-hal yang indah.

Namun pada dasarnya aku adalah seseorang yang bermimpi dan berhasrat besar, sering sekali aku melakukan hal naif dan melampaui batas. Tapi kemudian aku selalu tertarik untuk berfikir tentang gagasan dosa. Semua yang dilakukan diluar kendali hanya akan menimbulkan rasa sakit, pada tubuh dan hati manapun. Bukankah melukai adalah hakikat dosa? Aku sering memintakan ampun. Dengan meminta kematian. Untuk apa? Entahlah, bahkan aku sendiri ragu apakah lantaran rasa bersalah pada tuhan? Minta maaf saja, tidak untuk apa-apa. Sebab aku juga bukan manusia saleh yang bisa mengikis dosa dengan zikir dan puasa.

Tapi sampai saat ini aku masih diberinya hidup bahkan masih bisa memikirkanmu. Aku tidak juga diberinya mati. Apakah tuhan sayang padaku? Ah, aku sendiri tidak tahu apakah klehidupan yang sedang ku jalani sedang menuju kebaikan? (seharusnya itu kesimpulannya jika kau berkesadaran tuhan) atau justru kehidupan inilah hukuman mati itu.

22 September 2010 14.35
0 komentar

Kepercayaan

“ Berdoalah untuk saya” begitu gadis itu meminta pada lelaki yang ia percaya, lelaki yang jauh, yang hatinya rentan oleh mata perawan. Setelah isak yang panjang ia tertidur dengan separuh hati yang sudah tiba di langit. Menunggu diadili, begitulah lemahnya kepercayaan. Namun hanya Allah yang akan melegakanmu.

25 september 2010. 14.14
0 komentar

Yang rindu

Ada perempuan yang suka tidur di bawah hujan seolah jentik jentik basah yang menerjang tubuhnya adalah ciuman dari kekasihnya yang tak pernah pulang. Ia suka berbinar menghadapi kabut, hanya ada langit yang tabah melahap derita yang terbit dari matanya. Ia berdoa unutuk kebahagiaan sementara kulitnya aus karena rindu dan dingin. Hanya itu

Dan saban petang ia kembali sekedar memastikan bahwa tuhan tidak ingkar. Lalu senja akan hilang. Malam naik ke langit. Doa ia sudahi, bintang sudah menungunya unutuk menari. Ia menari, begitu cara ia bekerja. Lalu ia akan mengerti bahwa rindunya pada keindahan seabadi tiada.

22 september 2010 11.54
0 komentar

PEREMPUAN

IA HANYA SEORANG PEREMPUAN DAN TIDAK AKAN MENJADI LEBIH DARI SEKEDAR PEREMPUAN, SEBAB KETIKA IA MENGGAGAS SESUATU DENGAN PIKIRANNYA TENTANG KEINDAHAN, PENGETAHUAN, KESADARAN, SEKETIKA BADAI BESAR DARI PERASAANNYA YANG JALANG MEMBANGKIT PERANG. BEGITU SEBALIKNYA, KETIKA BUNCAH GAIRAHNYA BELUM SAMPAI MENUNJUKAN SEBUAH AKHIR YANG MURNI IA IA TIBA-TIBA PATAHKAN OLEH RASIONALITASNYA SENDIRI, BERTOLAK DARI FUNGSINYA YANG PALING PRAGMATIS DAN BANAL, SHITT!!!

22 September 2010 . 12.27
0 komentar

Mati

Rasa-rasanya kata kematian lebih bernuansa hidup dari pada mati. Hari selasa, minggu ketiga bulan September, kedua bola mata gagap menangkap sinar matahari. Sinar yang ragu mengaburkan pula semua gagasan hidup. Di jalanan, hijau daun, bau angin dan wajah-wajah pengendara yang para pejalan yang tidak bergegas karena hujan. Warna baju yang menyala terperosok ke dalam hitam. Hitam yang diam.

Aku mendatangi sebuah rumah dimana geliat mudaku bisa terbakar tapi lalu kutemuakan surat kabar, tergeletak acuh “ kebanyakan kabar yang tertera adalah tentang Yang Hampir Mati” selebihnya sunyi. Rumah yang sungguh nyaman ini seperti benda mati yang penciptaannya tidak terintegrasi dengan waktu, cita-cita dan perasaan manapun. Ia tidak punya sejarah. Lalu aku bertemu dengan wajah yang sama, wajah yang lalu. Kulit –kulit yang membalut kepala busuk karena terlalu banyak berendam dan melenakan diri. Kami membaca, makan, menyapa, dan berencana, ah, bosan!

Aku kembali ke sebuah kamar. Bahkan hujan masih tidak membuat orang-orang bergegas, aku sendiri lerlibat dalam langkah itu. Entah terlibat dengan hujan atau diam-diam menolak hujan. Aku temukan lagi ruang yang diam, setumpuk bacaan ku abaikan bahkan dengan kedua mataku

Aku ingin tidur. Ada rindu yang samar, hanya ini yang nampak hidup tapi lenyap lagi sebab gagal meraba wajah. Ada hasrat nelangsa di dada, aku tunaikan dengan cara mengambil fungsinya yang paling dangkal. Aku gagal tidur, sepi sudah lebih dulu menyelinap diruang mimpi

Aku sedikitpun tidak dibiarkan hidup. Aku mati. Kemana orang-orang yang kemarin datang padaku? Atas rencana siapa mereka melengkapi matiku. Atau justru, mereka telah lebih dulu mati?

21 September 2010 18.56
0 komentar

Pulang

Gadis yang sudah patah-patah tulang kakinya itu akhirnya pulang. Menemaninya ibunya. Masak dan besih-bersih lantai. Ketika tangannya bergairah karena limpahan sabun dan lemak piring, kedua matanya pula berair, bibirnya menerbangkan serapah yang disebabkan ia gagal menemukan pengertian dari kerumitan dirinya. Rambutnya bercabang penuh kelakar. Kakinya yang bengkok keriput karena air cucian.

Dan ia akhirnya membuang jauh-jauh kemalangan yang menggunduk di kantung matanya. Ia tebarkan saja pada sawah dan tegak pohon kelapa yang tumbuh subur di desanya. Ia harus mengalah sebab ia sedang pulang, ya! Pulang kepada ibunya. Semua hal yang tidak baik sebaiknya dilipat aman, kalau perlu ia selipkan di balik kutang dan membiarkan kerumitan itu seseuka hati menerjang dadanya yang sepi

Di depan, tidak jauh dari tungku, ibunya berdiri meminjam wajahnya yang muda.

21 september 2010 . 02.02
0 komentar

Meski hujan tak turun lagi

Dulu, Ketika hujan seperti ini.
Ilalang rebah di kaki sungai.
Daun tua terhuyung oleh gelombang.
Sinar senja mengendap di bawah daun.
Dan matahari menusuknya dari barat

Sesuatu bergemuruh dan bergelombang .
Bunyinya hangat.
Jatuh dengan tetes tangismu

Hujan beranjak ke langit langit.
Setelah habis membenamkan luka.
Luka yang tak pernah selesai.
Dan siapapun tak bisa menguburnya

Meski hujan tak turun lagi

Ketika hujan, seperti ini
Luka masih saja segar seperti kemarin


Ciputat, 14 agustus 2007
0 komentar

Kosong

Senja melorot ke dahan dahan seperti rambut itu jatuh di pundakmu
Kau duduk di sandera pikiran.
Tapi kekosongan hanya bisa di tikam dengan diam

Segala yang terus bergerak
Hanya akan membuatmu bertanya
Kemana bunyi itu pergi
Dan kita tahu. Kesunyian labih purba dari manusianya

Lalu
Kita mesti lagi bersabar
Bahwa sepi semakin beranak pinak
Sementara hati masih terus dibuatnya bergetar!





Ciputat, 17 agustus
0 komentar

(.... ....... ...... ..........)

Tidak peduli siapa,
tapi dimana.
Pernah satu kali ia menyodorkan nama
”yanglalu yanglalang”
Begitu ia katakan dengan diam

Sesuatu bergetar
Ada cerita terurai di sepanjang hela nafas
Di bawah serabut pohon tua

(Aku pikir. Aku mengerti)

Aku terdesak
Tidak menemukan kau
Gemerisik daun mereda jantung
”kau mengejar angin” kata mereka di tengah keluh

(Aku pikir, aku mengerti)

Hingga ratusan hari
Aku masih tidak perduli siapa kau
Hanya saja Dimana.
Dimana.

Dan Pengertianku,
tidak mengubah apa-apa.

Ciputat, 18 maret 2010
0 komentar

Kabar dari mantannya sri Rama

Semalam shinta datang padaku
tidak dari api atau matahari
Ia torehkan kebekuan
Menggubah lekas lidahku jadi malam.

Juga kabar yang mempesonakan
Tidak ada satupun rongga ditubuhnya!.

(dulu dengan rongga itu aku menyaksikan rabuk jadi kupu-kupu)

Juga kabar yang mempesonakan
Shinta hanyalah jutaan bola mata yang bertumpuk tak berbentuk.
Usai berpagut
Ia melahap seluruhku dengan damai
Dengan berpancar-pancar pengetahuannya.

Dan satu lagi:
Bahwa Shinta tidak berkelenjar
Bahkan tidak airmatanya.
0 komentar

REINKARNASI

Ari ari yang terbuang
terlanjur membelilit di tubuh ilalang
Sehabis pecah di beriak sungai
Diterbuailah ia di telaga

Gadis kecil dalam ayunan
Tidak pernah selesai menghisap putingmu
Habis susu, habis keringat. Habis darah, habis air mata
habis seluruh cairan dalam tubuhmu

gadis kecil menangis
suaranya sampai menderit di rahim
ketika padang ilalang menelan
tidak ada kau, bau tubuh,
dan bau melati kering yang tertusukdi rambutmu

gadis kecil mulai bersetubuh dengan angannya sendiri
ku lihat kau menangis dan menghisap sisa puntung rokok ayah

aku mencari umang umang di padang padi
mengejar bulan di pucuk daun akasia
berlari sampai keutara, berlari lagi kebarat, meludahi rembulan
lalu tertawa dalam gairahku sendiri

senja kesekian...
anak anak pulang mengantongi matahari
kau pasung aku dalam tubuhmu
tubuhmu yang kadung menjadi tubuhku
dan tubuh tubuh perempuan lain
0 komentar

Pada hening

Melajulah,
Seperti cahaya di jalan-jalan
Dengan keterbelahan
Mencium jagad tanpa berkhianat
Sedang ketiadaan adalah gelap tak terbantah

Meresaplah,
Seperti bercak hujan di trotoar
Bergeledak batu-batu
Memadatinya lagi dengan sepi
Sepi yang meresap
sepi yang menjadi
sepi yang bermuara

sepi yang berkubang
di hatimu yang juga batu

terjagalah,
pada kedalaman mata
pada kekelaman pikiran
pada biru-biru sukma
pada kebisuan
padamu, hening.

Jakarta, 07 mei 2008
0 komentar

Bulan sekarat

Bulan terantuk – antuk di langit
Tertindih sinarnya sendiri

Bulan menggapai-gapai
Tapi langit kosong dan maha tiada

Bulan terluka parah
Dipancang, di salib putihnya sendiri

Bulan remuk
Bulan pecah

.....awan bergelantungan di pundaknya
Melumat habis-habis
Menimbang-nimbang cahaya

Oh,
Di kedalaman rimbun akasia
Sang punguk, menimbang – nimbang luka
Menghitung gelap
Memilin nasib
Di mana hidup barulah bisa dimulai
Bismillah....

Jakarta, 07 mei 2008
0 komentar

Tanda

Jika kau tanda,
Apa makna pertanyaan

Jika kau arah
Apakah kosong tetap bisa menuju

Jika kau akhir
Benarkah keputusan tidak pernah dibutuhkan

Di dadaku,
Segala-galanya berhenti mengalir,
menggunduk dan berkarang

Di kepalaku,
Segala-galanya menikam
Cahaya menikam cahaya
Budi menikam budi
remuk dalam taqdirnya yang agung

Mungkin,
kita hanya butuh secangkir kopi
Hanya butuh mesra
Hanya butuh mimpi
Hanya butuh harapan
Maka Biar ku padati kepekatannya dengan bibirku, bibirmu

Kita tabur benih, tabur basah,
Kita menabur detak
Sebab mungkin saja
Tanda mengabaikan kita.


Jakarta, 07 mei 2008
0 komentar

Ada apa dengan ciuman

Apa jadinya ciuman tanpa imajinasi, seperti bibir yang bertumpu pada benda kenyal tapi tanpa ruh! Rasa dan daya hayal harus bersinergi untuk menciptakan moment yang kemudian kita sebut indah.

Seseorang pernah bercerita sebuah ciuman akan lebih bernuansa cinta dari pada berhubungan intim. Seperti semburat jingga yang lembut di kaki langit, seperti fla pada kue? Ah, masa. Lebay deh! Bukankan cinta adalah ketertarikan, keterkaguman dan keterpesonaan yang menuntut sebuah prilaku seks? Ciuman semacam itu apa bisa kalau ndak nafsu! Dari hasrat yang mana ciuman dalam hal ini? Oh, what ever!

Dan hari ini ada yang bilang sebuah ciuman bisa mengusir rasa sepi? Seperti seorang sahabat yang punya kebiasaan menepuk bahu dengan alasan agar bersinergi? Mungkin. Sangat mungkin.Di dalam daging manusia, pada suhu tertentu dan pada kondisi tertentu, tersimpan energi yang tidak bisa diperkirakan rupa, kadar dan fungsinya yang bisa tersalur satu sama lain melalui pertemuan kulit. sehingga bisa saja sepi yang sudah menjadi tabiat manusia dengan sendirinya akan merasa “terlengkapi”

Dan ada satu kawan lagi yang memutuskan untuk tidak berciuman, karena ketika kekasihnya mencium disitu ia tahu dan merasa bahwa dia dan kekasihnya ternyata tidak saling mencintai. Oh....
0 komentar

Get your eyes !

Usai latihan jam 12 malam lalu pulang menuju kos, sendirian, adalah moment yang menyimpan sukacita tersendiri. Dalam keadaan kotor sementara tubuh berkeringat dan rasa lelah yang menyenangkan turut menimbun rasa melankolis saya. Bermula dari melewati kampus yang megah dan sepi dengan daun-daun tua yang berserak sembarang di halaman kampus. Lalu berjalan di sepanjang trotoar, menyaksikan lampu-lampu jalan menyala yang hanya menerangi wajah-wajah para pejalannya yang pucat.
Dan di langit, selalu ada bulan di titik zenith.Dia selalu yang paling megah di antara lampu-lampun kota yang bertebaran di jalan.

Aku memasuki sebuah gang. Jalan lurus satu arah yang sebelah kanannya ditumbuhi pohon Kapuk dan Beringin yang rindang. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan aku menyaksikan seekor anjing berlari. Kedua matanya se-arah padaku. Karena kita menempati jalan yang sama seolah-olah ia tengah berlari menujuku. Hatiku berdebar, kekhawatiran-kekhawatiran kecil mulai mengganggu. Kuupayakan tetap konsentrasi dan tenang lebih tepatnya waspada. Ia berlari dengan sangat tenang seolah seirama dengan caraku berjalan.

Ketika jarak kami kami mulai mendekat ia begitu saja melewatiku, ya, tidak terjadi apa-apa. Tapi aku betul ingin tahu dan memastikan bahwa anjing itu memang tidak mengejarku. Aku tidak bisa menahan diri. Aku menoleh ke belakang dan pada saat yang bersamaan ia juga menoleh ke arahku.Oh, i get your eyes!. What do you think about me?
0 komentar

Akulah Pohon Itu

Akulah pohon itu yang tumbuh kekar di halaman rumahmu. akulah yang lebih dulu ada di sana sebelum kau. yang menyaksikanmu datang di ujung jalan. tanpa sebuah perjanjian begitu saja kita terlibat dalam kesenangan dan kesengsaraan. Aku bisa meneduhkanmu ketika panas bumi tidak bisa lagi perkirakan, atau mengikis rumahmu dari dera hujan, juga sangat mungkin menghadiahmu buah dan bunga pada musimnya. tapi aku juga bisa sangat merepotkanmu. daun tuaku yang berguguran terbang sembarang di latar rumah. dan yang juga mungkin, dahan-dahanku yang kian kokoh justru mendatangkan musibah. merobohkan atap rumahmu.

tapi memang begitulah, kau juga bisa pergi sebagaimana kau datang dulu. tidak akan ada yang menangis di antara kita, sebab kita tidak terlibat dalam hubungan apapun, seperti  hubungan yang diciptakan manusia-manusia yang  sepi; sahabat, kawan, pacar, selingkuhan, suami, istri, anak. teman lama, kawan baru. teman face book, teman blog, mantan bos, mantan pacar, mantan kamar, dan hubungan hubungan lain.  aku tidak tahan repotnya. sering sekali kau mengeluhkan varian hubunganmu dengan manusia lain di bawah rimbunku.

meskipun aku tidak akan terlibat pada hubungan-hubungan macam itu denganmu. dan sekalipun hubungan itu ada, aku memilih  tidak akan mempercayainya. namun aku akan tetap percaya pada sikap baik dan kasih sayang. untuk semua makhluk, di banyak hal dan kemungkinan.  
0 komentar

Indari

Karena aku percaya cinta, maka aku ambil sekedar saja darinya...

Indari setengah tertidur di pundak lelakinya. Sesekali meremas-remas ruas tangannya yang dingin. Malampun diam. Ruang gelap. Jendela setengah terbuka. Cahaya mercuri merayapi tubuhnya yang putih. Suaminya tidak juga bergeming meski bibir perempuan ini bergetar. Berbisik berkali-kali. Munawar tidak akan pernah bangun. Stroke yang menahun membuatnya tak ubah seperti daging mati. Sesekali berusaha untuk tetap hidup. Berusaha keras menyicil nafasnya sekalipun sadar dia hanya mampu mendelikkan mata lalu lekat menatap indari, ya!. Apa yang terjadi dengan sebuah tatapan tidak bisa diartikan sederhana. Terlebih ia tidak mempunyai kemampuan lain selain menatap dan Indari percaya dia sedang dicintai. Itu cukup.
Pada malam yang sangat larut, Indari akan bangun dan lebih berani menatap suaminya seolah ingin meyakini bahwa dia tidak pernah sendirian. Di tengah keresahan itu, sebetulnya ia sangat menginginkan lelaki ini untuk sekedar menggerakan bibirnya agar ia merasa terbalas. Tapi jelas itu tidak terjadi. Lelaki yang telah menikahinya 5 tahun itu akan terus terpejam sampai dia merasa mampu untuk bangun.
“Sungguh sepi jiwaku, tapi aku merasa cukup hanya sebab aku tahu kau membutuhkanku. Sekarang kau dua kali lebih tua dari aku. Wajahmu tirus dan kosong. Kulit ini terlalu tipis membalut tulang-tulangmu yang sebetulnya tangguh. Ah, dengan jari-jari ini dulu kau suka sekali menyentuh hidungku, kau bilang bangir, jika kita berdekatan akan lekas menyentuh wajahmu”.
Indari mengulum senyum. Dia tampak malu. Wajahnya memerah. Tidak lama kemudian ia menyentuh bibir suaminya dengan jemari. Tampak kering dan kelabu. Lalu sontak wajah Indari menegang.benaknya terpental pada sebuah ingatan.
“ Aku ingat pagi naas itu, kau bergegas pergi sebelum menanggalkan ciuman di keningku, “Orang-orang penting menungguku di kantor, Mama.” Begitu katamu sambil bergegas. akh..! tapi sekali ciuman tidak butuh waktu lama Munawar, lalu aku sadar aku tidak akan mendapatkannya lagi dalam waktu yang sangat lama, sampai kapan ? entah ! beberapa jam setelah mobilmu landas, seorang di ujung telpon memintaku untuk datang kerumah sakit, kau terkena serangan jantung ketika sekretarismu mengabarkan bahwa perusahaan yang kau pimpin kalah tender. Ya, karena Cuma itu. Kau tidak cukup tangguh menghadapi ini. bahkan dari hari ke hari kau tidak bertambah baik. Segala sesuatu di sekitarmu seolah menjadi sangat buruk. kau menjadi pemarah, sejak itu segalanya menjadi buruk!”.
Indari perlahan mengangkat tubuhnya dari ranjang, mendekati cermin yang kemudian membingkai seluruh tubuhnya
“Tapi aku masih saja cantik dan selalu bertambah baik ,sangat baik! hanya lantaran percaya mencintaimu adalah sebuah kebaikan. Bila saja kau mau lihat, kau akan menyaksikan tubuhku sama seperti sebelum kau pinang. Aku masih perempuanmu yang kau bilang memiliki standar kecantikan anak negeri. ini lucu, entahlah, aku tidak pernah percaya sampai kau memutuskan menikah denganku. Ya! aku ingat hari itu, hari keberuntunganku tapi mungkin sebetulnya tidak”.
Indari merapihkan rambutnya menggunakan Blezer yang diambilnya dari lemari. Melapisi gaun malamnya yang tipis. Jiwanya terlempar pada kenangan beberapa tahun silam
“Saya Indari, Pak. Sarjana Ekonomi dengan indeks prestasi sangat baik, jelasnya Bapak bisa melihat berkas surat ini, dan saya minta sebelum Bapak membuat keputusan apapun, saya harap Bapak tidak sungkan untuk mempelajari terlebih dahulu CV saya”
Peristiwa itu kembali meranggas di kepalanya. Indari berhadapan dengan seorang direktur di sebuah perusahaan yang tidak lain adalah Munawar namun lelaki itu hanya menatap lurus ke jendela, kalau saja Indari tidak menangkap sepasang mata pada sebuah cermin, mungkin rasanya lebih baik ia bersegera pulang, tapi sepasang mata itu seolah mengatakan “Sedikitlah bersabar, Nona. Akan ada kesempatan untukmu” ya, mata itu mengungkapkan semuanya lebih lengkap. Munawar sama seperti lelaki lain, selalu ingin merahasiakan banyak hal tapi tidak cukup berhasil. Tidak butuh waktu lama, beberapa hari setelahnya, Bapak Direktur itu meminang Indari bukan justru mempekerjakannya sebagai sekretaris seperti yang ditawarkan di perusahaan.
Indari mendekatkan bibirnya tepat dikelopak mata Munawar, dia bisa merasakan bola matanya bergeser, sedikit hangat lalu menuntun ciumannya hinga ke dada.
“Nafasmu, kau hidup lalu aku akan tau kau tidak akan pernah meninggalkanku.
Indari perlahan beranjak, lalu berdiri tegak di sisi ranjang. Menyelimutinya dengan lembut. Menyapu rambut suaminya dengan jemarinya yang gemetar. Sedikit lembab. Beberapa rambut putihnya mengkilat dirayap mercury. Indari meninggalkan ranjang suaminya. Tubuh lelaki itu bertambah ringkih tanpa perempuan di sampingnya. Ia terbaring lelah, pucat, kaku dan kesepian.

***

“Malam, Indari. Apa kabar”?
Seorang lelaki di ujung telphon, suaranya berderak dan parau tetapi upayanya sunguh besar untuk tetap menyapa dengan manis
“Ah, kau. kabarku baik Har, ada apa”?
“Aku sakit Indari, kebebasan ini justru merajamku”
Suara Hartono bergetar, belum lagi Indari bicara, Hartono menyambungnya “Sekaligus menjijikan!. Mengapa dia melakukan ini, dia hanya harus bicara padaku”?
“Hartono, ini mengenai siapa”?
“Marini …”
“Ada apa dengan Marini”?
“Dia membawa pacarnya ke rumah dan keduanya mampus di ranjangku kemarin malam”
Tak ada jawaban, Indari mencari kesan-kesan terakhir Marini sebelum kematiannya. Baru dua hari lalu dia bertemu Marini di Taman Kota. ia memperkenalkan seorang lelaki. Agung nama lelaki itu. Di tengah perkenalannya dia sempat setengah berbisik ke telinga Indari “Agung tidak seperti Hartono. Agung hanya memiliki aku seorang. Oya Indari. Dia pasti masih sering menemuimu. Jika kau bertemu Hartono katakan aku menunggunya. Ada kabar penting. Dia harus pulang kerumah setidaknya besok malam”
Marini perempuan baik, kelewat baik dan dia sama dengan perempuan lain, selalu melakukan pekerjaan yang tidak kunjung selesai adalah mencintai lelaki yang menjadi kekasihnya dengan penuh keimanan Mencintai lantaran percaya. Sungguh tidak sebanding, karena Hartono hanya menginginkannya semalam dan satu bulan setelahnya dia dinyatakan hamil. Marini juga tahu perihal Hartono mencintai Indari, tapi menurutnya cinta yang baik adalah yang membebaskanmu dari segala bentuk prasangka, ah pembohong! Kenapa justru ia kesakitan.
Indari, still you there…?
klik!
***
Malam berawan. Cahaya bulan berdesakan dengan kabut. Angin beriak mengantar gelombang dari utara menyentuh pohon Akasia. Menepuk-nepuk daun yang tertidur. Sisa hujan tercecer di lubang jalanan. Wangi rumput basah. Bunga jalanan bagai perawan. Sebetulnya selalu indah apa yang ditinggalkan hujan. Segalanya nampak bening. Pengamen-pengamen kecil riang berkeciprak dengan air hujan. Sepasang kekasih menunggu taksi di bawah payung yang sama. Di sebuah kafe, sekelompok orang bernostalgia. Asap mengawang di beberapa cangkir kopi mereka. Bagi mereka keheningan ini tidak cukup berarti tapi sepi terus saja memberi ruang pada Indari.
Pada tahun-tahun Munawar terbaring sakit, ia sampai pada satu titik untuk berani tidak setia sekaligus membuktikan bahwa ia bebas untuk mengubah alur hidupnya adalah tidak memilih hidup sebatang kara di samping seorang suami yang cacat. Membuat dirinya terasing dari kenangan – kenangan hidupnya yang pernah lengkap. Hartono adalah jalan yang paling mungkin. Tapi lagi-lagi hasil sebuah pilihan selalu samar.
Hartono terlelap di samping Indari sementara perempuan ini terus saja terjaga
"lelaki ini sangat tahu bagaimana membuat para perempuan jatuh cinta, tapi tak tahu bagaimana seharusnya dia merasa dibutuhkan," lamat diucapkan Indari, wajahnya dipenuhi berbagai keputusan
“Ketika tertidur manusia nampak seperti bayi tapi sayang aku bukan ibu yang baik, Har". Senyum mengambang lalu menciut di ujung bibirnya. Hartono menggeliat merangsek ke tubuhnya segera perempuan itu menahan dengan punggungnya
"cukup!, kau sudah mendapatkan lebih dari yang kau butuhkan" Bisiknya kuat.
Selimut putih terlerai menelanjangi tubuhnya segera ia mengenakan pakaiannya kembali. Dia selalu ingin meninggalkan Hartono dalam keadaan terlelap seperti meninggalkan tumpahan tinta dan menjaganya dari ciprtan air tapi ritual kali ini Indari menambahkan. Satu-satu ia menanggalkan seluruh pemberian Hartono: Jam tangan ukir, gaun merah marun, liontin, novel dan hadiah terakhir di ulang tahunnya yang ke 35 adalah sapu tangan beludru berinisial HI.
“Sungguh barang – barang yang tidak menandai apapun”. Pikirnya.
"Kau tidak akan pernah menjadi bagianku, meski pada beberapa malam kita seolah menjadi sepasang kekasih, lihat! ternyata aku tidak lebih sunyi dari sebelumnya. Setiap kali menemuimu adalah ketertindasan yang tidak bisa aku bantah dan malam ini waktu yang teramat baik. Waktu yang betul-betul kupilih. Ternyata bukan kebebasan yang sedang kucari Har, tapi tidak menjadi bagian dari siapapun itu cukup melegakan.
Hartono masih tidak bergeming, pemandangan seperti ini selalu mengingatkan ia pada Munawar, lelaki yang selamanya diam namun selalu melahirkan perasaan perasaan ambigu antara kebebasan dan terhempas, cinta dan ketidak pedulian, cemas dan rasa aman.

***
Dan munawar, di kamarnya yang hanya di terangi bulan
“Menyaksikanmu tenggelam di langit kemerah merahan, entah menuju mana aku tidak tahu. Aku takut untuk tahu, tapi tidak ada kau disini sungguh menakutkan, sayang. Kematian berjaga di tiap sudut dan lihat bahkan bulan tidak menyisakan bayangan bagi tubuhmu. Ada rahasia apa antara kau, aku dan gelap ini? ada bayangan hitam berjaga di balik jendela sehabis ketukan sepatumu yang terakhir lalu samar dan hilang tapi dia tak ingin menghampiriku. Ia terus berjaga di balik jendela seolah menunggu waktu yang tepat.
Kau selalu bergegas ketika pergi sampai kau biarkan piyamamu tercecer di ranjang. Aku masih bisa mencium baumu, wewangian yang kerap menghadirkan kecantikanmu. Wujudmu Indari, Membuatku lupa tentang sosok hitam di balik jendela.
Lihat istriku, bulan melintas di jendela. Langit mulai putih dan keabuan tapi belum juga terdengar rumput tersontak kaget tertindih sepatumu atau gemerisik rok yang kau kenakan tadi malam. Aku lelah dan sakit perempuanku. Datang lah sebelum bayangan hitam menyembul lagi dari jendela!
Tidak ! aku tidak akan tidur. kematian bagai hantu hantu kecil menyelinap di serat kain. mengisi setiap kekosongan yang kau ciptakan, mereka juga saling berujar di gendang telingaku. Kalimatnya bagai belatih yang berkali kali menikam jantung, “Indari tidak tidur dengan lelaki sekarat, Indari tertidur di ranjang lelaki lain!” ah...! malaikat malaikat ini mulai menjadi iblis, terus melumat sisa sisa cinta dan jasadku.
Munawar terbujur kaku namun kedua matanya berusaha keras mendelik ke arah jendela. Bayangan hitam mulai menyembul di jendela. Menjajaki seluruh dinding-dinding kamar. Mata Munawar terbelalak lebar. Garis di wajahnya mengeras bagai akar akasia menyembul dari kedalaman tanah. Dia nampak lebih hidup dari biasanya. Hidup yang bersumber dari ketakutannya sendiri. Tapi lelaki itu tahu ketakutannya bukan berasal dari Indari atau dari gagal pekerjaan yang memangkas habis seluruh jalur hidupnya dan bukan pula ketakutan dari wajah dokter yang cemas saat indari bertanya perihal strokenya, melainkan sebab bahwa justru ketakutan-ketakutan ini akan berakhir. Termasuk ketakutan pada kejalangan sekaligus keistimewaan istrinya.
Iya tahu, bayangan yang semakin mendekat itu akan segera mengakhiri hidupnya. Munawar bagai singa lapar yang mencoba meronta dan membongkar pasungan, namun ia hanya berdaya menggerakan ruas ruas tangannya yang putih. Bayangan hitam mulai menciumi ranjangnya dengan gerakan yang teratur dan lembut ia merangsek ke tubuh Munawar. Memeluknya seperti ibu membungkus tubuh bayi. Munawar tidak nampak lagi. Langit diam dan bunyi bunyi lenyap, kecuali suara gereges rumput di bawah sepatu seorang perempuan

***
Indari duduk di bawah ranjang suaminya bersimpuh seperti seorang tawanan. Kelopak mata munawar tertutup rapat seperti gerbang singgasana dimana tidak seorangpun diperbolehkan masuk. Dadanya tidak lagi menggelembung karena nafas. Sekujur tubuhnya kaku, mengeras, senyawa dengan tulangnya. Tidak ada kehidupan.
Jendela terbuka. Bulan putih mengapung di tengahnya. Separuh sinarnya mengenai tubuh Indari yang putih, bagai dua pedang yang saling berdenting, separuhnya lagi mengenai jasad Munawar. Pedang itu menusuk tanpa perlawanan. Indari suka kegelapan agar benar benar bisa merasakan cahaya dan seperti tubuh Munawar, tubuhnya ikut membatu. Tidak ada apa-apa selain dingin dan kegelapan. Sesekali punggung perempuan itu terguncang tapi lebih lama diam. Kepalanya tertunduk. Rambutnya jatuh menenggelamkan wajahnya.
“Pasunglah kakiku di ranjangmu, Tuan. Rajamlah seluruh kehendakku agar membilur seperti luka luka di matamu. Rajamlah juga seluruh pikiranku, agar hanya bisa melakukan satu hal; Mencintaimu!. Mencintaimu tanpa pikiran. Mencintaimu tanpa kehendak, sebab kebebasan juga begitu kosong. Aku tidak ingin apa-apa lagi. Demi tuhan, aku tidak ingin apa-apa.


Sabtu, 22 Mei 2010
0 komentar

Hai wuluh!

Hai wuluh
Rumah rumah berpijak
diketinggian gunung yang misteri
rinai hujan menusuk birumu

dan dikaki kaki gelombang yang luluh lantak
ku titip sebuah sketsa:
(seorang gadis dengan garis garis wajah tak kekal)

sepasang bola mata dari bulan
terlampau putih dan membutakan

pipi tanpa perona
kerap berjingkat naik ke arah air mata

hidung bergaris bimbang,
terperosok dalam lubang tanpa penyanggah

bibirnya
kadang semaunya terkatup
kadang terbelah layak senja
menggaris dua panorama : langit berserah dan
bumi melumat habis matahari)

bibir tanpa garis keputusan, bisu
tidak sampai kucium tadi malam

(dia membalasnya dengan hujan)

dagu yang lembut kadang tajam menikam jantung
muara segala kemelutnya yang abadi

hai wuluh
begitulah sketsa dengan garis garis wajah tak kekal
garis wajah milik gadis
yang hidup bersayap
diruang hati yang sedemikian ganjil

09 Januari 2009
0 komentar

Yang tak pernah kuncup dan malam

Gemerisik daun gelisah
Dan angin tak peduli
Rahasia - rahasia tertelungkup digunduk akasia
(....tentang doa yang kau pinjam dari majnun...)

Samar wajahmu
Disapu kata yang bergegas
Matahari tak cukup jernih
Merasuki malam ditubuhmu
(...tubuhmu tak pernah pagi..)

.... pijar purnama.juga tak tangkas
Menyingkap kelopak mata
Yang membatu


pada subuh yang basah
kunang-kunang mencecap embun
bibirmu tergerak
melafal bunyi yang jauh terbit dikedalaman
tiada apapun tahu
bahkan kau

telah bertabur dilangit
berjuta kelopak bunga mekar dan merah
juga yang tak pernah kuncup dan malam.

08 januari 2009
0 komentar

Kau dan suara

Dan sebuah suara
merajut hati menjadi nyanyian
merayapi kidung langit
maha megah maha berkabut

dan
tumpahlah ia
pada hujan yang tak memberimu pelangi

hanya halilintar yang cacat
terlanjur bertuan
pada hening dan kesenyapan

dan sebuah suara
bukanlagi kata
melainkan sebentuk gada
meremukan kedirian
menjadi pecahan merah yang bersinar

lalu sebuah suara
terbang kelangit kemerah-merahan
menjadi remahan bintang

kau, dan suara
pada suatu malam yang hitam
menggagahi jagad yang hening

kau dan suara
lenyap kelangit-langit.
Dan Jagadpun semakin bungkam



08 januari, 2009
0 komentar

*Perempuan tua yang saban hari membawa parang

Dulu
Pada musim yang hanya dicatat penggagas awan
Seluruh bunyi menggunggah rahimnya berdencit
Hingga anak-anak sipembawa tombak tangkas merobek dinding perutnya yang telah menjadi tebing
Perempuan-perempuan menggeliat membakar ranjang
Mengubah airmatanya menjadi ransum dan peluru
Laki-laki berkepala putih
mengawini mimpi yang terbaring dalam kelambu merah menyala

Lalu,
pada hari semua tegak berdiri
Seperti jarum hujan yang siap menusuk langit
Anak-anak berbusung dada sementara perut dan kakinya bergetar
Perempuan itu lalai menyimpan sepatu laras
hingga sepasang mata anaknya yang setajam tikam mengenakannya di telunjuk

dan saban hari anak itu terjaga
sampai perkasa lidah dan telunjuknya
perempuan itu digagahi dengan siluet parang yang menggantung di ke empat sisi ranjang
namun, si anak yang telah mengawetkan penisnya dengan air raksa itu tumbang
setelah singgasana dilahap rayap bertoga

(perempuan yang mulai beruban itu gagal mati. Ia rajin mengasah parang)

Pada sebuah perhelatan yang lebih gaduh dari angin bulan april
seekor kura-kura yang selesai mengecat rumahnya lolos menjadi pemenang
semua mata menangkap dua kelamin yang dibentengi tempurungnya.
Ia suka bernyanyi dengan lirik yang samar
ia suka menyuruh dengan mata berkedip
ia suka silicon dan bulu mata palsu
baru-baru ini ia punya kesukaan baru. Menukar-nukar payudara ibunya dengan dua kantung timah.

Ketika para rayap mulai pincang. Giginya keropos.
Tiba-tiba ia merasa asyik jika tanpa kepala
Dan Si ibu kian renta
hanya dendamnya saja yang perkasa

saban dini hari
Perempuan tua itu selalu ditemukan membawa parang
Ketika bibir anaknya mulai bersiul senada burung
Ia merasa siap menghunusnya, sebab lidah si anak lebih berbahaya dari jantung kanibal.
Tapi ia lupa ke dua kakinya masih terpasung di ranjang
Perempuan itupun menangis dengan gemuruh yang dipinjam dari ombak dan halilintar
Lebih tajam dari tangis dewi sukesi menyayangkan rahwana.

Ciputat, 21 agustus 2010. 16.29
0 komentar

Akhir riwayat seorang tuan *M.Dj*

Tuan,
Kau adalah yang pada suatu hari membawakan aku pintu
Malam selanjutnya kutemukan matamu di lubang kunci
Ya, aku berada pada satu ruang yang begitu terpelihara
Tapi siapa yang lebih dulu datang di sini
Pintumu?
atau ruangku?
Kitapun melupakan
Karena tiba-tiba kita merasa ada tapi tidak dimana-mana

Kaulah yang membawakan aku laut
Beserta ombak dan biru yang kau pikul di bahu
Riak kecemasan
Gelisah yang menjajaki langit
Rebah pada ciuman pantai
Kita berseloroh
“Bagaimana kita membaginya pada karang yang mulai berlubang di patuk camar?”
Tapi dengan sungguh Kau memberi sebagian bahumu
Dan aku mematahkan sayapku

Kaulah yang pada suatu hari melubangi bukit
Dari sisa-sisa ketabahanmu merangkak di terjal hatimu sendiri
Untuk mengubur sekedar keluh dan tangis
Di bilik jantung yang telanjang
Sebab katamu dari sanalah para gadis terlahir

Kaulah malam
Yang sengaja memangkas terang untuk bisa menyunting purnama
Luka berkilauan
Kita memeluk satu sama lain
Seperti dua kain yang saling merajut
Siapa yang lalu akan mengibarkan kita
Wufh…. Kita pasrahkan pada udara.

Tuan,
Dan suatu malam
Tidak ada apa dan siapa disini
Sia-sia Jerit nyeri mengiang
Sepi tertanda pada akhir riwayatmu

“inilah kita sayang, kesunyian”

Ciputat, 21 agustus 2010.08.48
0 komentar

Kisah cintaku dengan angka-angka

Dua belas digit nomor di lempar dari udara
Lima diantaranya tak berbilang sama
Suatu hari menggetarkan layar
Seperti ranjang pengantin yang mulai terusik dengan kelambu

Dan sapa-sapa menguap dari bibir angka
Rayu nyaris seperti doa
Janji tersulur membentuk simpul. Mengikat.
Suara dari satuan krikil membangun arca
Memahat rindu yang gagal dilebur gada

Kupasrahkan padamu, pada nol, satu, dua dan selanjutnya

Kasih seluas kosong
Duka berbilang ganda
Segala hilir dan liku
berkubang dalam kotak seratus senti meter
Tertanda dua belas dijit nomor mengemuka.

aku remuk
tertindiih tuts… tuts…tus…
angka-angka berpencar lagi meraba layar
berpendar di jutaan layar yang menyala.

Ciputat, 12 agustus 2010 06.54
0 komentar

Anak Lumpur

Gelap mengendap
Mengubur kaki ke dalam benih
Tidak berpijak sial berjingkat
Tengkuk bergetar diciumi landap

Aku pernah berlari
Kupatahkan rumput nakal
Dan kusulap jadi roket
Roket itu yang sekarang berdesing di kelambu ibu

Aku pernah mencium sirip ikan
Dengan bibir sipit yang biru
Rebah lena di perut danau
Dari langit ibu merenggutku dengan lidahnya

anak, biar kau bukan tentang
kembalilah menjadi daging

hingga pada suatu hari
kupatahkan tulang dan kurobek otot
lalu ku sulam tabah di dalam lumpur

gelap mengendap
mengubur kaki ke dalam benih
tidak berpijak sial berjingkat
tengkuk bergetar di ciumi landap

ibu, maaf.
masih ada selembar rambut
yang akan kuterbangkan di udara

tunggu di sana.


Ciputat, 21 agustus 2010. 05.54
0 komentar

Permisi....

Akhirnya saya mampir di sini dan memutuskan untuk menyimpan  barang-barang dan semua kepunyaan saya. heheh tapi sebelumnya maaf, kulonuwun.... semoga  tidak mengganggu rekan-rekan sejagad. tapi apalah saya bahkan  siapapun bukan cuma kata-kata, itupun bekas. kata-kata bekas guru saya,bekas temen kos saya,bekas pacar saya, kadang-kadag juga saya pinjam dari emak saya. begitulah.... Bismillah.

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta