Akhir riwayat seorang tuan *M.Dj*

Tuan,
Kau adalah yang pada suatu hari membawakan aku pintu
Malam selanjutnya kutemukan matamu di lubang kunci
Ya, aku berada pada satu ruang yang begitu terpelihara
Tapi siapa yang lebih dulu datang di sini
Pintumu?
atau ruangku?
Kitapun melupakan
Karena tiba-tiba kita merasa ada tapi tidak dimana-mana

Kaulah yang membawakan aku laut
Beserta ombak dan biru yang kau pikul di bahu
Riak kecemasan
Gelisah yang menjajaki langit
Rebah pada ciuman pantai
Kita berseloroh
“Bagaimana kita membaginya pada karang yang mulai berlubang di patuk camar?”
Tapi dengan sungguh Kau memberi sebagian bahumu
Dan aku mematahkan sayapku

Kaulah yang pada suatu hari melubangi bukit
Dari sisa-sisa ketabahanmu merangkak di terjal hatimu sendiri
Untuk mengubur sekedar keluh dan tangis
Di bilik jantung yang telanjang
Sebab katamu dari sanalah para gadis terlahir

Kaulah malam
Yang sengaja memangkas terang untuk bisa menyunting purnama
Luka berkilauan
Kita memeluk satu sama lain
Seperti dua kain yang saling merajut
Siapa yang lalu akan mengibarkan kita
Wufh…. Kita pasrahkan pada udara.

Tuan,
Dan suatu malam
Tidak ada apa dan siapa disini
Sia-sia Jerit nyeri mengiang
Sepi tertanda pada akhir riwayatmu

“inilah kita sayang, kesunyian”

Ciputat, 21 agustus 2010.08.48

0 komentar:

Posting Komentar

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta