Hai wuluh
Rumah rumah berpijak
diketinggian gunung yang misteri
rinai hujan menusuk birumu
dan dikaki kaki gelombang yang luluh lantak
ku titip sebuah sketsa:
(seorang gadis dengan garis garis wajah tak kekal)
sepasang bola mata dari bulan
terlampau putih dan membutakan
pipi tanpa perona
kerap berjingkat naik ke arah air mata
hidung bergaris bimbang,
terperosok dalam lubang tanpa penyanggah
bibirnya
kadang semaunya terkatup
kadang terbelah layak senja
menggaris dua panorama : langit berserah dan
bumi melumat habis matahari)
bibir tanpa garis keputusan, bisu
tidak sampai kucium tadi malam
(dia membalasnya dengan hujan)
dagu yang lembut kadang tajam menikam jantung
muara segala kemelutnya yang abadi
hai wuluh
begitulah sketsa dengan garis garis wajah tak kekal
garis wajah milik gadis
yang hidup bersayap
diruang hati yang sedemikian ganjil
09 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar