Hai wuluh!

Hai wuluh
Rumah rumah berpijak
diketinggian gunung yang misteri
rinai hujan menusuk birumu

dan dikaki kaki gelombang yang luluh lantak
ku titip sebuah sketsa:
(seorang gadis dengan garis garis wajah tak kekal)

sepasang bola mata dari bulan
terlampau putih dan membutakan

pipi tanpa perona
kerap berjingkat naik ke arah air mata

hidung bergaris bimbang,
terperosok dalam lubang tanpa penyanggah

bibirnya
kadang semaunya terkatup
kadang terbelah layak senja
menggaris dua panorama : langit berserah dan
bumi melumat habis matahari)

bibir tanpa garis keputusan, bisu
tidak sampai kucium tadi malam

(dia membalasnya dengan hujan)

dagu yang lembut kadang tajam menikam jantung
muara segala kemelutnya yang abadi

hai wuluh
begitulah sketsa dengan garis garis wajah tak kekal
garis wajah milik gadis
yang hidup bersayap
diruang hati yang sedemikian ganjil

09 Januari 2009

0 komentar:

Posting Komentar

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta