Indari

Karena aku percaya cinta, maka aku ambil sekedar saja darinya...

Indari setengah tertidur di pundak lelakinya. Sesekali meremas-remas ruas tangannya yang dingin. Malampun diam. Ruang gelap. Jendela setengah terbuka. Cahaya mercuri merayapi tubuhnya yang putih. Suaminya tidak juga bergeming meski bibir perempuan ini bergetar. Berbisik berkali-kali. Munawar tidak akan pernah bangun. Stroke yang menahun membuatnya tak ubah seperti daging mati. Sesekali berusaha untuk tetap hidup. Berusaha keras menyicil nafasnya sekalipun sadar dia hanya mampu mendelikkan mata lalu lekat menatap indari, ya!. Apa yang terjadi dengan sebuah tatapan tidak bisa diartikan sederhana. Terlebih ia tidak mempunyai kemampuan lain selain menatap dan Indari percaya dia sedang dicintai. Itu cukup.
Pada malam yang sangat larut, Indari akan bangun dan lebih berani menatap suaminya seolah ingin meyakini bahwa dia tidak pernah sendirian. Di tengah keresahan itu, sebetulnya ia sangat menginginkan lelaki ini untuk sekedar menggerakan bibirnya agar ia merasa terbalas. Tapi jelas itu tidak terjadi. Lelaki yang telah menikahinya 5 tahun itu akan terus terpejam sampai dia merasa mampu untuk bangun.
“Sungguh sepi jiwaku, tapi aku merasa cukup hanya sebab aku tahu kau membutuhkanku. Sekarang kau dua kali lebih tua dari aku. Wajahmu tirus dan kosong. Kulit ini terlalu tipis membalut tulang-tulangmu yang sebetulnya tangguh. Ah, dengan jari-jari ini dulu kau suka sekali menyentuh hidungku, kau bilang bangir, jika kita berdekatan akan lekas menyentuh wajahmu”.
Indari mengulum senyum. Dia tampak malu. Wajahnya memerah. Tidak lama kemudian ia menyentuh bibir suaminya dengan jemari. Tampak kering dan kelabu. Lalu sontak wajah Indari menegang.benaknya terpental pada sebuah ingatan.
“ Aku ingat pagi naas itu, kau bergegas pergi sebelum menanggalkan ciuman di keningku, “Orang-orang penting menungguku di kantor, Mama.” Begitu katamu sambil bergegas. akh..! tapi sekali ciuman tidak butuh waktu lama Munawar, lalu aku sadar aku tidak akan mendapatkannya lagi dalam waktu yang sangat lama, sampai kapan ? entah ! beberapa jam setelah mobilmu landas, seorang di ujung telpon memintaku untuk datang kerumah sakit, kau terkena serangan jantung ketika sekretarismu mengabarkan bahwa perusahaan yang kau pimpin kalah tender. Ya, karena Cuma itu. Kau tidak cukup tangguh menghadapi ini. bahkan dari hari ke hari kau tidak bertambah baik. Segala sesuatu di sekitarmu seolah menjadi sangat buruk. kau menjadi pemarah, sejak itu segalanya menjadi buruk!”.
Indari perlahan mengangkat tubuhnya dari ranjang, mendekati cermin yang kemudian membingkai seluruh tubuhnya
“Tapi aku masih saja cantik dan selalu bertambah baik ,sangat baik! hanya lantaran percaya mencintaimu adalah sebuah kebaikan. Bila saja kau mau lihat, kau akan menyaksikan tubuhku sama seperti sebelum kau pinang. Aku masih perempuanmu yang kau bilang memiliki standar kecantikan anak negeri. ini lucu, entahlah, aku tidak pernah percaya sampai kau memutuskan menikah denganku. Ya! aku ingat hari itu, hari keberuntunganku tapi mungkin sebetulnya tidak”.
Indari merapihkan rambutnya menggunakan Blezer yang diambilnya dari lemari. Melapisi gaun malamnya yang tipis. Jiwanya terlempar pada kenangan beberapa tahun silam
“Saya Indari, Pak. Sarjana Ekonomi dengan indeks prestasi sangat baik, jelasnya Bapak bisa melihat berkas surat ini, dan saya minta sebelum Bapak membuat keputusan apapun, saya harap Bapak tidak sungkan untuk mempelajari terlebih dahulu CV saya”
Peristiwa itu kembali meranggas di kepalanya. Indari berhadapan dengan seorang direktur di sebuah perusahaan yang tidak lain adalah Munawar namun lelaki itu hanya menatap lurus ke jendela, kalau saja Indari tidak menangkap sepasang mata pada sebuah cermin, mungkin rasanya lebih baik ia bersegera pulang, tapi sepasang mata itu seolah mengatakan “Sedikitlah bersabar, Nona. Akan ada kesempatan untukmu” ya, mata itu mengungkapkan semuanya lebih lengkap. Munawar sama seperti lelaki lain, selalu ingin merahasiakan banyak hal tapi tidak cukup berhasil. Tidak butuh waktu lama, beberapa hari setelahnya, Bapak Direktur itu meminang Indari bukan justru mempekerjakannya sebagai sekretaris seperti yang ditawarkan di perusahaan.
Indari mendekatkan bibirnya tepat dikelopak mata Munawar, dia bisa merasakan bola matanya bergeser, sedikit hangat lalu menuntun ciumannya hinga ke dada.
“Nafasmu, kau hidup lalu aku akan tau kau tidak akan pernah meninggalkanku.
Indari perlahan beranjak, lalu berdiri tegak di sisi ranjang. Menyelimutinya dengan lembut. Menyapu rambut suaminya dengan jemarinya yang gemetar. Sedikit lembab. Beberapa rambut putihnya mengkilat dirayap mercury. Indari meninggalkan ranjang suaminya. Tubuh lelaki itu bertambah ringkih tanpa perempuan di sampingnya. Ia terbaring lelah, pucat, kaku dan kesepian.

***

“Malam, Indari. Apa kabar”?
Seorang lelaki di ujung telphon, suaranya berderak dan parau tetapi upayanya sunguh besar untuk tetap menyapa dengan manis
“Ah, kau. kabarku baik Har, ada apa”?
“Aku sakit Indari, kebebasan ini justru merajamku”
Suara Hartono bergetar, belum lagi Indari bicara, Hartono menyambungnya “Sekaligus menjijikan!. Mengapa dia melakukan ini, dia hanya harus bicara padaku”?
“Hartono, ini mengenai siapa”?
“Marini …”
“Ada apa dengan Marini”?
“Dia membawa pacarnya ke rumah dan keduanya mampus di ranjangku kemarin malam”
Tak ada jawaban, Indari mencari kesan-kesan terakhir Marini sebelum kematiannya. Baru dua hari lalu dia bertemu Marini di Taman Kota. ia memperkenalkan seorang lelaki. Agung nama lelaki itu. Di tengah perkenalannya dia sempat setengah berbisik ke telinga Indari “Agung tidak seperti Hartono. Agung hanya memiliki aku seorang. Oya Indari. Dia pasti masih sering menemuimu. Jika kau bertemu Hartono katakan aku menunggunya. Ada kabar penting. Dia harus pulang kerumah setidaknya besok malam”
Marini perempuan baik, kelewat baik dan dia sama dengan perempuan lain, selalu melakukan pekerjaan yang tidak kunjung selesai adalah mencintai lelaki yang menjadi kekasihnya dengan penuh keimanan Mencintai lantaran percaya. Sungguh tidak sebanding, karena Hartono hanya menginginkannya semalam dan satu bulan setelahnya dia dinyatakan hamil. Marini juga tahu perihal Hartono mencintai Indari, tapi menurutnya cinta yang baik adalah yang membebaskanmu dari segala bentuk prasangka, ah pembohong! Kenapa justru ia kesakitan.
Indari, still you there…?
klik!
***
Malam berawan. Cahaya bulan berdesakan dengan kabut. Angin beriak mengantar gelombang dari utara menyentuh pohon Akasia. Menepuk-nepuk daun yang tertidur. Sisa hujan tercecer di lubang jalanan. Wangi rumput basah. Bunga jalanan bagai perawan. Sebetulnya selalu indah apa yang ditinggalkan hujan. Segalanya nampak bening. Pengamen-pengamen kecil riang berkeciprak dengan air hujan. Sepasang kekasih menunggu taksi di bawah payung yang sama. Di sebuah kafe, sekelompok orang bernostalgia. Asap mengawang di beberapa cangkir kopi mereka. Bagi mereka keheningan ini tidak cukup berarti tapi sepi terus saja memberi ruang pada Indari.
Pada tahun-tahun Munawar terbaring sakit, ia sampai pada satu titik untuk berani tidak setia sekaligus membuktikan bahwa ia bebas untuk mengubah alur hidupnya adalah tidak memilih hidup sebatang kara di samping seorang suami yang cacat. Membuat dirinya terasing dari kenangan – kenangan hidupnya yang pernah lengkap. Hartono adalah jalan yang paling mungkin. Tapi lagi-lagi hasil sebuah pilihan selalu samar.
Hartono terlelap di samping Indari sementara perempuan ini terus saja terjaga
"lelaki ini sangat tahu bagaimana membuat para perempuan jatuh cinta, tapi tak tahu bagaimana seharusnya dia merasa dibutuhkan," lamat diucapkan Indari, wajahnya dipenuhi berbagai keputusan
“Ketika tertidur manusia nampak seperti bayi tapi sayang aku bukan ibu yang baik, Har". Senyum mengambang lalu menciut di ujung bibirnya. Hartono menggeliat merangsek ke tubuhnya segera perempuan itu menahan dengan punggungnya
"cukup!, kau sudah mendapatkan lebih dari yang kau butuhkan" Bisiknya kuat.
Selimut putih terlerai menelanjangi tubuhnya segera ia mengenakan pakaiannya kembali. Dia selalu ingin meninggalkan Hartono dalam keadaan terlelap seperti meninggalkan tumpahan tinta dan menjaganya dari ciprtan air tapi ritual kali ini Indari menambahkan. Satu-satu ia menanggalkan seluruh pemberian Hartono: Jam tangan ukir, gaun merah marun, liontin, novel dan hadiah terakhir di ulang tahunnya yang ke 35 adalah sapu tangan beludru berinisial HI.
“Sungguh barang – barang yang tidak menandai apapun”. Pikirnya.
"Kau tidak akan pernah menjadi bagianku, meski pada beberapa malam kita seolah menjadi sepasang kekasih, lihat! ternyata aku tidak lebih sunyi dari sebelumnya. Setiap kali menemuimu adalah ketertindasan yang tidak bisa aku bantah dan malam ini waktu yang teramat baik. Waktu yang betul-betul kupilih. Ternyata bukan kebebasan yang sedang kucari Har, tapi tidak menjadi bagian dari siapapun itu cukup melegakan.
Hartono masih tidak bergeming, pemandangan seperti ini selalu mengingatkan ia pada Munawar, lelaki yang selamanya diam namun selalu melahirkan perasaan perasaan ambigu antara kebebasan dan terhempas, cinta dan ketidak pedulian, cemas dan rasa aman.

***
Dan munawar, di kamarnya yang hanya di terangi bulan
“Menyaksikanmu tenggelam di langit kemerah merahan, entah menuju mana aku tidak tahu. Aku takut untuk tahu, tapi tidak ada kau disini sungguh menakutkan, sayang. Kematian berjaga di tiap sudut dan lihat bahkan bulan tidak menyisakan bayangan bagi tubuhmu. Ada rahasia apa antara kau, aku dan gelap ini? ada bayangan hitam berjaga di balik jendela sehabis ketukan sepatumu yang terakhir lalu samar dan hilang tapi dia tak ingin menghampiriku. Ia terus berjaga di balik jendela seolah menunggu waktu yang tepat.
Kau selalu bergegas ketika pergi sampai kau biarkan piyamamu tercecer di ranjang. Aku masih bisa mencium baumu, wewangian yang kerap menghadirkan kecantikanmu. Wujudmu Indari, Membuatku lupa tentang sosok hitam di balik jendela.
Lihat istriku, bulan melintas di jendela. Langit mulai putih dan keabuan tapi belum juga terdengar rumput tersontak kaget tertindih sepatumu atau gemerisik rok yang kau kenakan tadi malam. Aku lelah dan sakit perempuanku. Datang lah sebelum bayangan hitam menyembul lagi dari jendela!
Tidak ! aku tidak akan tidur. kematian bagai hantu hantu kecil menyelinap di serat kain. mengisi setiap kekosongan yang kau ciptakan, mereka juga saling berujar di gendang telingaku. Kalimatnya bagai belatih yang berkali kali menikam jantung, “Indari tidak tidur dengan lelaki sekarat, Indari tertidur di ranjang lelaki lain!” ah...! malaikat malaikat ini mulai menjadi iblis, terus melumat sisa sisa cinta dan jasadku.
Munawar terbujur kaku namun kedua matanya berusaha keras mendelik ke arah jendela. Bayangan hitam mulai menyembul di jendela. Menjajaki seluruh dinding-dinding kamar. Mata Munawar terbelalak lebar. Garis di wajahnya mengeras bagai akar akasia menyembul dari kedalaman tanah. Dia nampak lebih hidup dari biasanya. Hidup yang bersumber dari ketakutannya sendiri. Tapi lelaki itu tahu ketakutannya bukan berasal dari Indari atau dari gagal pekerjaan yang memangkas habis seluruh jalur hidupnya dan bukan pula ketakutan dari wajah dokter yang cemas saat indari bertanya perihal strokenya, melainkan sebab bahwa justru ketakutan-ketakutan ini akan berakhir. Termasuk ketakutan pada kejalangan sekaligus keistimewaan istrinya.
Iya tahu, bayangan yang semakin mendekat itu akan segera mengakhiri hidupnya. Munawar bagai singa lapar yang mencoba meronta dan membongkar pasungan, namun ia hanya berdaya menggerakan ruas ruas tangannya yang putih. Bayangan hitam mulai menciumi ranjangnya dengan gerakan yang teratur dan lembut ia merangsek ke tubuh Munawar. Memeluknya seperti ibu membungkus tubuh bayi. Munawar tidak nampak lagi. Langit diam dan bunyi bunyi lenyap, kecuali suara gereges rumput di bawah sepatu seorang perempuan

***
Indari duduk di bawah ranjang suaminya bersimpuh seperti seorang tawanan. Kelopak mata munawar tertutup rapat seperti gerbang singgasana dimana tidak seorangpun diperbolehkan masuk. Dadanya tidak lagi menggelembung karena nafas. Sekujur tubuhnya kaku, mengeras, senyawa dengan tulangnya. Tidak ada kehidupan.
Jendela terbuka. Bulan putih mengapung di tengahnya. Separuh sinarnya mengenai tubuh Indari yang putih, bagai dua pedang yang saling berdenting, separuhnya lagi mengenai jasad Munawar. Pedang itu menusuk tanpa perlawanan. Indari suka kegelapan agar benar benar bisa merasakan cahaya dan seperti tubuh Munawar, tubuhnya ikut membatu. Tidak ada apa-apa selain dingin dan kegelapan. Sesekali punggung perempuan itu terguncang tapi lebih lama diam. Kepalanya tertunduk. Rambutnya jatuh menenggelamkan wajahnya.
“Pasunglah kakiku di ranjangmu, Tuan. Rajamlah seluruh kehendakku agar membilur seperti luka luka di matamu. Rajamlah juga seluruh pikiranku, agar hanya bisa melakukan satu hal; Mencintaimu!. Mencintaimu tanpa pikiran. Mencintaimu tanpa kehendak, sebab kebebasan juga begitu kosong. Aku tidak ingin apa-apa lagi. Demi tuhan, aku tidak ingin apa-apa.


Sabtu, 22 Mei 2010

0 komentar:

Posting Komentar

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta