Dulu
Pada musim yang hanya dicatat penggagas awan
Seluruh bunyi menggunggah rahimnya berdencit
Hingga anak-anak sipembawa tombak tangkas merobek dinding perutnya yang telah menjadi tebing
Perempuan-perempuan menggeliat membakar ranjang
Mengubah airmatanya menjadi ransum dan peluru
Laki-laki berkepala putih
mengawini mimpi yang terbaring dalam kelambu merah menyala
Lalu,
pada hari semua tegak berdiri
Seperti jarum hujan yang siap menusuk langit
Anak-anak berbusung dada sementara perut dan kakinya bergetar
Perempuan itu lalai menyimpan sepatu laras
hingga sepasang mata anaknya yang setajam tikam mengenakannya di telunjuk
dan saban hari anak itu terjaga
sampai perkasa lidah dan telunjuknya
perempuan itu digagahi dengan siluet parang yang menggantung di ke empat sisi ranjang
namun, si anak yang telah mengawetkan penisnya dengan air raksa itu tumbang
setelah singgasana dilahap rayap bertoga
(perempuan yang mulai beruban itu gagal mati. Ia rajin mengasah parang)
Pada sebuah perhelatan yang lebih gaduh dari angin bulan april
seekor kura-kura yang selesai mengecat rumahnya lolos menjadi pemenang
semua mata menangkap dua kelamin yang dibentengi tempurungnya.
Ia suka bernyanyi dengan lirik yang samar
ia suka menyuruh dengan mata berkedip
ia suka silicon dan bulu mata palsu
baru-baru ini ia punya kesukaan baru. Menukar-nukar payudara ibunya dengan dua kantung timah.
Ketika para rayap mulai pincang. Giginya keropos.
Tiba-tiba ia merasa asyik jika tanpa kepala
Dan Si ibu kian renta
hanya dendamnya saja yang perkasa
saban dini hari
Perempuan tua itu selalu ditemukan membawa parang
Ketika bibir anaknya mulai bersiul senada burung
Ia merasa siap menghunusnya, sebab lidah si anak lebih berbahaya dari jantung kanibal.
Tapi ia lupa ke dua kakinya masih terpasung di ranjang
Perempuan itupun menangis dengan gemuruh yang dipinjam dari ombak dan halilintar
Lebih tajam dari tangis dewi sukesi menyayangkan rahwana.
Ciputat, 21 agustus 2010. 16.29
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar