0 komentar

Meski hujan tak turun lagi

Dulu, Ketika hujan seperti ini.
Ilalang rebah di kaki sungai.
Daun tua terhuyung oleh gelombang.
Sinar senja mengendap di bawah daun.
Dan matahari menusuknya dari barat

Sesuatu bergemuruh dan bergelombang .
Bunyinya hangat.
Jatuh dengan tetes tangismu

Hujan beranjak ke langit langit.
Setelah habis membenamkan luka.
Luka yang tak pernah selesai.
Dan siapapun tak bisa menguburnya

Meski hujan tak turun lagi

Ketika hujan, seperti ini
Luka masih saja segar seperti kemarin


Ciputat, 14 agustus 2007
0 komentar

Kosong

Senja melorot ke dahan dahan seperti rambut itu jatuh di pundakmu
Kau duduk di sandera pikiran.
Tapi kekosongan hanya bisa di tikam dengan diam

Segala yang terus bergerak
Hanya akan membuatmu bertanya
Kemana bunyi itu pergi
Dan kita tahu. Kesunyian labih purba dari manusianya

Lalu
Kita mesti lagi bersabar
Bahwa sepi semakin beranak pinak
Sementara hati masih terus dibuatnya bergetar!





Ciputat, 17 agustus
0 komentar

(.... ....... ...... ..........)

Tidak peduli siapa,
tapi dimana.
Pernah satu kali ia menyodorkan nama
”yanglalu yanglalang”
Begitu ia katakan dengan diam

Sesuatu bergetar
Ada cerita terurai di sepanjang hela nafas
Di bawah serabut pohon tua

(Aku pikir. Aku mengerti)

Aku terdesak
Tidak menemukan kau
Gemerisik daun mereda jantung
”kau mengejar angin” kata mereka di tengah keluh

(Aku pikir, aku mengerti)

Hingga ratusan hari
Aku masih tidak perduli siapa kau
Hanya saja Dimana.
Dimana.

Dan Pengertianku,
tidak mengubah apa-apa.

Ciputat, 18 maret 2010
0 komentar

Kabar dari mantannya sri Rama

Semalam shinta datang padaku
tidak dari api atau matahari
Ia torehkan kebekuan
Menggubah lekas lidahku jadi malam.

Juga kabar yang mempesonakan
Tidak ada satupun rongga ditubuhnya!.

(dulu dengan rongga itu aku menyaksikan rabuk jadi kupu-kupu)

Juga kabar yang mempesonakan
Shinta hanyalah jutaan bola mata yang bertumpuk tak berbentuk.
Usai berpagut
Ia melahap seluruhku dengan damai
Dengan berpancar-pancar pengetahuannya.

Dan satu lagi:
Bahwa Shinta tidak berkelenjar
Bahkan tidak airmatanya.
0 komentar

REINKARNASI

Ari ari yang terbuang
terlanjur membelilit di tubuh ilalang
Sehabis pecah di beriak sungai
Diterbuailah ia di telaga

Gadis kecil dalam ayunan
Tidak pernah selesai menghisap putingmu
Habis susu, habis keringat. Habis darah, habis air mata
habis seluruh cairan dalam tubuhmu

gadis kecil menangis
suaranya sampai menderit di rahim
ketika padang ilalang menelan
tidak ada kau, bau tubuh,
dan bau melati kering yang tertusukdi rambutmu

gadis kecil mulai bersetubuh dengan angannya sendiri
ku lihat kau menangis dan menghisap sisa puntung rokok ayah

aku mencari umang umang di padang padi
mengejar bulan di pucuk daun akasia
berlari sampai keutara, berlari lagi kebarat, meludahi rembulan
lalu tertawa dalam gairahku sendiri

senja kesekian...
anak anak pulang mengantongi matahari
kau pasung aku dalam tubuhmu
tubuhmu yang kadung menjadi tubuhku
dan tubuh tubuh perempuan lain
0 komentar

Pada hening

Melajulah,
Seperti cahaya di jalan-jalan
Dengan keterbelahan
Mencium jagad tanpa berkhianat
Sedang ketiadaan adalah gelap tak terbantah

Meresaplah,
Seperti bercak hujan di trotoar
Bergeledak batu-batu
Memadatinya lagi dengan sepi
Sepi yang meresap
sepi yang menjadi
sepi yang bermuara

sepi yang berkubang
di hatimu yang juga batu

terjagalah,
pada kedalaman mata
pada kekelaman pikiran
pada biru-biru sukma
pada kebisuan
padamu, hening.

Jakarta, 07 mei 2008
0 komentar

Bulan sekarat

Bulan terantuk – antuk di langit
Tertindih sinarnya sendiri

Bulan menggapai-gapai
Tapi langit kosong dan maha tiada

Bulan terluka parah
Dipancang, di salib putihnya sendiri

Bulan remuk
Bulan pecah

.....awan bergelantungan di pundaknya
Melumat habis-habis
Menimbang-nimbang cahaya

Oh,
Di kedalaman rimbun akasia
Sang punguk, menimbang – nimbang luka
Menghitung gelap
Memilin nasib
Di mana hidup barulah bisa dimulai
Bismillah....

Jakarta, 07 mei 2008
0 komentar

Tanda

Jika kau tanda,
Apa makna pertanyaan

Jika kau arah
Apakah kosong tetap bisa menuju

Jika kau akhir
Benarkah keputusan tidak pernah dibutuhkan

Di dadaku,
Segala-galanya berhenti mengalir,
menggunduk dan berkarang

Di kepalaku,
Segala-galanya menikam
Cahaya menikam cahaya
Budi menikam budi
remuk dalam taqdirnya yang agung

Mungkin,
kita hanya butuh secangkir kopi
Hanya butuh mesra
Hanya butuh mimpi
Hanya butuh harapan
Maka Biar ku padati kepekatannya dengan bibirku, bibirmu

Kita tabur benih, tabur basah,
Kita menabur detak
Sebab mungkin saja
Tanda mengabaikan kita.


Jakarta, 07 mei 2008
0 komentar

Ada apa dengan ciuman

Apa jadinya ciuman tanpa imajinasi, seperti bibir yang bertumpu pada benda kenyal tapi tanpa ruh! Rasa dan daya hayal harus bersinergi untuk menciptakan moment yang kemudian kita sebut indah.

Seseorang pernah bercerita sebuah ciuman akan lebih bernuansa cinta dari pada berhubungan intim. Seperti semburat jingga yang lembut di kaki langit, seperti fla pada kue? Ah, masa. Lebay deh! Bukankan cinta adalah ketertarikan, keterkaguman dan keterpesonaan yang menuntut sebuah prilaku seks? Ciuman semacam itu apa bisa kalau ndak nafsu! Dari hasrat yang mana ciuman dalam hal ini? Oh, what ever!

Dan hari ini ada yang bilang sebuah ciuman bisa mengusir rasa sepi? Seperti seorang sahabat yang punya kebiasaan menepuk bahu dengan alasan agar bersinergi? Mungkin. Sangat mungkin.Di dalam daging manusia, pada suhu tertentu dan pada kondisi tertentu, tersimpan energi yang tidak bisa diperkirakan rupa, kadar dan fungsinya yang bisa tersalur satu sama lain melalui pertemuan kulit. sehingga bisa saja sepi yang sudah menjadi tabiat manusia dengan sendirinya akan merasa “terlengkapi”

Dan ada satu kawan lagi yang memutuskan untuk tidak berciuman, karena ketika kekasihnya mencium disitu ia tahu dan merasa bahwa dia dan kekasihnya ternyata tidak saling mencintai. Oh....
0 komentar

Get your eyes !

Usai latihan jam 12 malam lalu pulang menuju kos, sendirian, adalah moment yang menyimpan sukacita tersendiri. Dalam keadaan kotor sementara tubuh berkeringat dan rasa lelah yang menyenangkan turut menimbun rasa melankolis saya. Bermula dari melewati kampus yang megah dan sepi dengan daun-daun tua yang berserak sembarang di halaman kampus. Lalu berjalan di sepanjang trotoar, menyaksikan lampu-lampu jalan menyala yang hanya menerangi wajah-wajah para pejalannya yang pucat.
Dan di langit, selalu ada bulan di titik zenith.Dia selalu yang paling megah di antara lampu-lampun kota yang bertebaran di jalan.

Aku memasuki sebuah gang. Jalan lurus satu arah yang sebelah kanannya ditumbuhi pohon Kapuk dan Beringin yang rindang. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan aku menyaksikan seekor anjing berlari. Kedua matanya se-arah padaku. Karena kita menempati jalan yang sama seolah-olah ia tengah berlari menujuku. Hatiku berdebar, kekhawatiran-kekhawatiran kecil mulai mengganggu. Kuupayakan tetap konsentrasi dan tenang lebih tepatnya waspada. Ia berlari dengan sangat tenang seolah seirama dengan caraku berjalan.

Ketika jarak kami kami mulai mendekat ia begitu saja melewatiku, ya, tidak terjadi apa-apa. Tapi aku betul ingin tahu dan memastikan bahwa anjing itu memang tidak mengejarku. Aku tidak bisa menahan diri. Aku menoleh ke belakang dan pada saat yang bersamaan ia juga menoleh ke arahku.Oh, i get your eyes!. What do you think about me?

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta