(.... ....... ...... ..........)

Tidak peduli siapa,
tapi dimana.
Pernah satu kali ia menyodorkan nama
”yanglalu yanglalang”
Begitu ia katakan dengan diam

Sesuatu bergetar
Ada cerita terurai di sepanjang hela nafas
Di bawah serabut pohon tua

(Aku pikir. Aku mengerti)

Aku terdesak
Tidak menemukan kau
Gemerisik daun mereda jantung
”kau mengejar angin” kata mereka di tengah keluh

(Aku pikir, aku mengerti)

Hingga ratusan hari
Aku masih tidak perduli siapa kau
Hanya saja Dimana.
Dimana.

Dan Pengertianku,
tidak mengubah apa-apa.

Ciputat, 18 maret 2010

0 komentar:

Posting Komentar

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta