Bulan terantuk – antuk di langit
Tertindih sinarnya sendiri
Bulan menggapai-gapai
Tapi langit kosong dan maha tiada
Bulan terluka parah
Dipancang, di salib putihnya sendiri
Bulan remuk
Bulan pecah
.....awan bergelantungan di pundaknya
Melumat habis-habis
Menimbang-nimbang cahaya
Oh,
Di kedalaman rimbun akasia
Sang punguk, menimbang – nimbang luka
Menghitung gelap
Memilin nasib
Di mana hidup barulah bisa dimulai
Bismillah....
Jakarta, 07 mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar