0 komentar

Dalam Membaca

ada selalu yang ingin kamu bisa enyahkan: seperti cemburu yang tidak ada hubungannya dengan cinta, cerita-cerita dari suara orang mati, tentang nasib dan perjumpaan yang musykil juga debat kusir nilai-nilai. LALU KAMU PUNYA BEBERAPA BUKU BAGUS UNTUK MEMBUNUHNYA namun, seperti mengibas asap sementara menggemukan api, seolah perasaan-perasaan itu akan tertampik oleh perkelahian makna yang mengucur deras dari jari - jari para penyair. lalu kau lupa, kenyataan, apapun itu hanya datang dari yang Tunggal. maka setelah lembar demi lembar hurup-hurup itu kau rasuki atau dia yang merasukimu, kau tidak pergi kemana-mana, kesimpulanmu tidak jatuh dimana-mana. tetap disitu sebab para penyair seolah bersekutu dengan sejarahmu. menangkap kisahmu. kau tertawan lagi.
ah, menurutku biar saja, kebenaran sedang menjelajahi dirinya sendiri melalui kau dan dia, atau mau nonton spongebob aja? he he he toh dia juga kisahmu.
0 komentar

Pertemuan

Kita tidak pernah bersentuhan kulit dan daging. Dan gambar yang kau krim sungguh tidak menjelaskan sesuatu yang hidup dari tulang dan darah. Tapi aku percaya kau kau lebih dari itu, semacam kekuatan luar biasa yang membawaku pada pengalaman suka dan duka cita yang rumit. Kau adalah kasih sayang itu, kau adalah kesunyian itu.

Aku ingin menciummu tapi aku ragu adakah bibir bagimu,aku ingin bersandar namun apakah kau berbahu? Belum sampai pada semuanya kau mengubah sebatangkaraku menjadi kehidupan yang rimbun dan bercabang. Lengkap.

Disini, kadang juga kekuatan ini juga mencapai satu pengertian yang berbahaya. Setelah aku sadar betul-betul tidak ada kau, hadirlah sepi yang lebih hebat dari kematian.

21 September 2010. 01.37
0 komentar

Itu Neyla!

Aku menemukan gadis kecil itu di depan pagar rumahku. Ia membuka dan menutup pagar seolah benda besi itu adalah mainan. Kepalanya botak. Ingusnya yang putih meleper di bawah lubang hidung dan bibir. ketika aku tanya dimana ibunya, sambil sibuk menutupkan kain batik usang di kepalanya ia menjawab “ibu di kapal” (ibunya bekerja sebagai TKW) lalu kutanya bapaknya, dengan gembira ia sebutkan nama dan memaksaku untuk melihat tempat dimana bapaknya bekerja. Tepat di depan rumahku, rumah seorang warga sedang dibangun dan ayah gadis itu salah satu pekerjanya. Aku suka caranya menjawab. kemudian ku susul pertanyaan terakhir “kenapa kepalamu di botak?” Dia menjawab spontan “supaya tumbuh rambut” .

aku ambil gambarnya dengan telpon seluler. Gadis kecil itu diam-diam berfose. Ketika kutunjukan hasil gambar beberapa detik ia diam lalu mengatakan “Neyla, itu Neyla” ya, Neyla nama gadis itu sebelumnya mana ku tahu. mungkin gadis itu juga tidak tahu sebelum melihat gambarnya sendiri di layar handphone . ya, itu Neyla.
0 komentar

Dosa

Keinginanku yang tertinggi adalah keinginan yang justru paling sederhana yang pernah diinginkan makhluk hidup adalah BERGERAK. Dan suatu hari kau datang memberikan penghargaan tertinggi padaku menyadarkan aku tentang gairah hidup, rasa kekurangan dan hasrat yang besar tapi lalu kau kembali tidak ada. Hari setelahnya tidak ada yang berubah. Aku tetap ada pada jalanku yang sederhana :berjalan, membaca, berlatih teater, bernyanyi di kamar mandi, berdoa. Aku aku merasakan fikiranku diam ternyata tidak sepenuhnya aku tetap hidup dan membayangkan hal-hal yang indah.

Namun pada dasarnya aku adalah seseorang yang bermimpi dan berhasrat besar, sering sekali aku melakukan hal naif dan melampaui batas. Tapi kemudian aku selalu tertarik untuk berfikir tentang gagasan dosa. Semua yang dilakukan diluar kendali hanya akan menimbulkan rasa sakit, pada tubuh dan hati manapun. Bukankah melukai adalah hakikat dosa? Aku sering memintakan ampun. Dengan meminta kematian. Untuk apa? Entahlah, bahkan aku sendiri ragu apakah lantaran rasa bersalah pada tuhan? Minta maaf saja, tidak untuk apa-apa. Sebab aku juga bukan manusia saleh yang bisa mengikis dosa dengan zikir dan puasa.

Tapi sampai saat ini aku masih diberinya hidup bahkan masih bisa memikirkanmu. Aku tidak juga diberinya mati. Apakah tuhan sayang padaku? Ah, aku sendiri tidak tahu apakah klehidupan yang sedang ku jalani sedang menuju kebaikan? (seharusnya itu kesimpulannya jika kau berkesadaran tuhan) atau justru kehidupan inilah hukuman mati itu.

22 September 2010 14.35
0 komentar

Kepercayaan

“ Berdoalah untuk saya” begitu gadis itu meminta pada lelaki yang ia percaya, lelaki yang jauh, yang hatinya rentan oleh mata perawan. Setelah isak yang panjang ia tertidur dengan separuh hati yang sudah tiba di langit. Menunggu diadili, begitulah lemahnya kepercayaan. Namun hanya Allah yang akan melegakanmu.

25 september 2010. 14.14
0 komentar

Yang rindu

Ada perempuan yang suka tidur di bawah hujan seolah jentik jentik basah yang menerjang tubuhnya adalah ciuman dari kekasihnya yang tak pernah pulang. Ia suka berbinar menghadapi kabut, hanya ada langit yang tabah melahap derita yang terbit dari matanya. Ia berdoa unutuk kebahagiaan sementara kulitnya aus karena rindu dan dingin. Hanya itu

Dan saban petang ia kembali sekedar memastikan bahwa tuhan tidak ingkar. Lalu senja akan hilang. Malam naik ke langit. Doa ia sudahi, bintang sudah menungunya unutuk menari. Ia menari, begitu cara ia bekerja. Lalu ia akan mengerti bahwa rindunya pada keindahan seabadi tiada.

22 september 2010 11.54
0 komentar

PEREMPUAN

IA HANYA SEORANG PEREMPUAN DAN TIDAK AKAN MENJADI LEBIH DARI SEKEDAR PEREMPUAN, SEBAB KETIKA IA MENGGAGAS SESUATU DENGAN PIKIRANNYA TENTANG KEINDAHAN, PENGETAHUAN, KESADARAN, SEKETIKA BADAI BESAR DARI PERASAANNYA YANG JALANG MEMBANGKIT PERANG. BEGITU SEBALIKNYA, KETIKA BUNCAH GAIRAHNYA BELUM SAMPAI MENUNJUKAN SEBUAH AKHIR YANG MURNI IA IA TIBA-TIBA PATAHKAN OLEH RASIONALITASNYA SENDIRI, BERTOLAK DARI FUNGSINYA YANG PALING PRAGMATIS DAN BANAL, SHITT!!!

22 September 2010 . 12.27
0 komentar

Mati

Rasa-rasanya kata kematian lebih bernuansa hidup dari pada mati. Hari selasa, minggu ketiga bulan September, kedua bola mata gagap menangkap sinar matahari. Sinar yang ragu mengaburkan pula semua gagasan hidup. Di jalanan, hijau daun, bau angin dan wajah-wajah pengendara yang para pejalan yang tidak bergegas karena hujan. Warna baju yang menyala terperosok ke dalam hitam. Hitam yang diam.

Aku mendatangi sebuah rumah dimana geliat mudaku bisa terbakar tapi lalu kutemuakan surat kabar, tergeletak acuh “ kebanyakan kabar yang tertera adalah tentang Yang Hampir Mati” selebihnya sunyi. Rumah yang sungguh nyaman ini seperti benda mati yang penciptaannya tidak terintegrasi dengan waktu, cita-cita dan perasaan manapun. Ia tidak punya sejarah. Lalu aku bertemu dengan wajah yang sama, wajah yang lalu. Kulit –kulit yang membalut kepala busuk karena terlalu banyak berendam dan melenakan diri. Kami membaca, makan, menyapa, dan berencana, ah, bosan!

Aku kembali ke sebuah kamar. Bahkan hujan masih tidak membuat orang-orang bergegas, aku sendiri lerlibat dalam langkah itu. Entah terlibat dengan hujan atau diam-diam menolak hujan. Aku temukan lagi ruang yang diam, setumpuk bacaan ku abaikan bahkan dengan kedua mataku

Aku ingin tidur. Ada rindu yang samar, hanya ini yang nampak hidup tapi lenyap lagi sebab gagal meraba wajah. Ada hasrat nelangsa di dada, aku tunaikan dengan cara mengambil fungsinya yang paling dangkal. Aku gagal tidur, sepi sudah lebih dulu menyelinap diruang mimpi

Aku sedikitpun tidak dibiarkan hidup. Aku mati. Kemana orang-orang yang kemarin datang padaku? Atas rencana siapa mereka melengkapi matiku. Atau justru, mereka telah lebih dulu mati?

21 September 2010 18.56
0 komentar

Pulang

Gadis yang sudah patah-patah tulang kakinya itu akhirnya pulang. Menemaninya ibunya. Masak dan besih-bersih lantai. Ketika tangannya bergairah karena limpahan sabun dan lemak piring, kedua matanya pula berair, bibirnya menerbangkan serapah yang disebabkan ia gagal menemukan pengertian dari kerumitan dirinya. Rambutnya bercabang penuh kelakar. Kakinya yang bengkok keriput karena air cucian.

Dan ia akhirnya membuang jauh-jauh kemalangan yang menggunduk di kantung matanya. Ia tebarkan saja pada sawah dan tegak pohon kelapa yang tumbuh subur di desanya. Ia harus mengalah sebab ia sedang pulang, ya! Pulang kepada ibunya. Semua hal yang tidak baik sebaiknya dilipat aman, kalau perlu ia selipkan di balik kutang dan membiarkan kerumitan itu seseuka hati menerjang dadanya yang sepi

Di depan, tidak jauh dari tungku, ibunya berdiri meminjam wajahnya yang muda.

21 september 2010 . 02.02

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta