Mati

Rasa-rasanya kata kematian lebih bernuansa hidup dari pada mati. Hari selasa, minggu ketiga bulan September, kedua bola mata gagap menangkap sinar matahari. Sinar yang ragu mengaburkan pula semua gagasan hidup. Di jalanan, hijau daun, bau angin dan wajah-wajah pengendara yang para pejalan yang tidak bergegas karena hujan. Warna baju yang menyala terperosok ke dalam hitam. Hitam yang diam.

Aku mendatangi sebuah rumah dimana geliat mudaku bisa terbakar tapi lalu kutemuakan surat kabar, tergeletak acuh “ kebanyakan kabar yang tertera adalah tentang Yang Hampir Mati” selebihnya sunyi. Rumah yang sungguh nyaman ini seperti benda mati yang penciptaannya tidak terintegrasi dengan waktu, cita-cita dan perasaan manapun. Ia tidak punya sejarah. Lalu aku bertemu dengan wajah yang sama, wajah yang lalu. Kulit –kulit yang membalut kepala busuk karena terlalu banyak berendam dan melenakan diri. Kami membaca, makan, menyapa, dan berencana, ah, bosan!

Aku kembali ke sebuah kamar. Bahkan hujan masih tidak membuat orang-orang bergegas, aku sendiri lerlibat dalam langkah itu. Entah terlibat dengan hujan atau diam-diam menolak hujan. Aku temukan lagi ruang yang diam, setumpuk bacaan ku abaikan bahkan dengan kedua mataku

Aku ingin tidur. Ada rindu yang samar, hanya ini yang nampak hidup tapi lenyap lagi sebab gagal meraba wajah. Ada hasrat nelangsa di dada, aku tunaikan dengan cara mengambil fungsinya yang paling dangkal. Aku gagal tidur, sepi sudah lebih dulu menyelinap diruang mimpi

Aku sedikitpun tidak dibiarkan hidup. Aku mati. Kemana orang-orang yang kemarin datang padaku? Atas rencana siapa mereka melengkapi matiku. Atau justru, mereka telah lebih dulu mati?

21 September 2010 18.56

0 komentar:

Posting Komentar

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta