Pulang

Gadis yang sudah patah-patah tulang kakinya itu akhirnya pulang. Menemaninya ibunya. Masak dan besih-bersih lantai. Ketika tangannya bergairah karena limpahan sabun dan lemak piring, kedua matanya pula berair, bibirnya menerbangkan serapah yang disebabkan ia gagal menemukan pengertian dari kerumitan dirinya. Rambutnya bercabang penuh kelakar. Kakinya yang bengkok keriput karena air cucian.

Dan ia akhirnya membuang jauh-jauh kemalangan yang menggunduk di kantung matanya. Ia tebarkan saja pada sawah dan tegak pohon kelapa yang tumbuh subur di desanya. Ia harus mengalah sebab ia sedang pulang, ya! Pulang kepada ibunya. Semua hal yang tidak baik sebaiknya dilipat aman, kalau perlu ia selipkan di balik kutang dan membiarkan kerumitan itu seseuka hati menerjang dadanya yang sepi

Di depan, tidak jauh dari tungku, ibunya berdiri meminjam wajahnya yang muda.

21 september 2010 . 02.02

0 komentar:

Posting Komentar

Network

Komunitas Blogger UIN Jakarta