Aku tidak ingin menemukanmu di tabung kaca ini, setelah berkali-kali aku membakar puisi. Sabdamu. Sebab entah mengapa liku –liku kata yang usai kau jalin justru bukan penjelasan sesampai ia tiba di dadaku. Hanya semacam jarak, jarak satu kejarak yang lainnya. Jarak yang beranak pinak. Ah, kata jarak sendiri hanya melenakan kita untuk tidak bilang tiada.
Kau tahu, jika suatu hari aku bisa menemukanmu di jalan melingkar atau bercabang. Akan ku jejaki semua arah itu asal tidak dengan kata. Sebagaimana terlalu biasa aku menjumpaimu di tabung kaca, atau di sebuah kertas dimana ribuan jari boleh menggapainya.
Hai jantung, dimana detak? Sungguh berlembar lembar hijab belum usai kurajah untuk menemukan batang hatimu. Seperti gundukan mega-mega yang merintangi sinar. Tapi aku tahu kehidupanku sendiri berasal darimu. Entah kau memberinya dengan janji atau sekedar melempar begitu saja lalu aku menemukannya dalam keadaan terlilit tali pusar dan menamainya sebagai cinta.
Boleh kah kau kusebut kekasih, jika hanya kaulah udara itu? Aku tidak peduli jika hembusan itu berasal dari cerobong –cerobong hitam dan membangun rumah racun di jantungku. Atau hembusan itu berasal dari daun-daun yang gagal dipangkas.
Tapi, dengan udara yangberagam itulah aku tumbuh.
Hai… hm… ah, aku mulai kesulitan menyapamu.sebab dalam membaca namamu hanya tanda. Bukan dialah dirimu. bintang yang berseliweran di langit. umang-umang dipadang padi. Yang mana yang dekat. Yang mana yang kukenal. Tidak ada, sebab kau hanya serupa sinar. jentik sinar yang setara juga Yang lekang jauhnya.
Dan suatu hari di penghujung tahun, kabarnya kau datang, kabar itu kudapat dari angin yang suka susumbar. Ada semacam sangsi atas kebahagiaanku mengapa tak kau biarkan aku lebih lama mencari, sebab diam-diam aku menikmati kesunyian ini. Oh, betapa rumitnya hasrat manusia, terlebih ia seorang gadis!
Namun, pendusta mana yang lebih hebat dari angin? sampai menjelang detik-detik berganti tahun, masih tak kuketahui kau menyelinap di wajah yang mana. Di perwujudan yang mana, di nama apa, di ruang apa. Menunggu, tuan. Ya, menunggu!. Nama-nama dan tanda tidak kutemukan disini, bahkan sekedar do’a urung kau sahut.
.
Waktu bagai seorang pandai besi yang menciptakan ribuan pedang untuk menghunus adamu sendiri. Kau tahu, kerinduan semacam ini membuatku jadi sebatang kara. Haruskah kuhisap sendiri jantungku agar aku bersenyawa dengan kau. Menjadi tidak ada. Menjadi tidak sebatang kara?
Dalam perjalanan pulang,
kutemui orang-orang yang terbilur luka ditubuhnya.
Luka membuka bagai mawar dipagut sinar
Anak-anak dan perempuan tidak berhenti menangis
seolah tubuhnya yang hangat adalah tungku penanak air mata
ada sepasang pengantin terbakar dihembus angin
bah menganyutkan bayi-bayi dan rumah
kesengsaraaan sudah sedemikian beku. Namun urung jadi sejarah.
Aku bergetar. tak bisa kubantah lagi, Kaulah kesedihan itu. Dialah Dirimu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar